nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tampil Perdana di BEI, Saham Gunung Raja Paksi Menguat 10%

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 09:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 19 278 2106677 tampil-perdana-di-bei-saham-gunung-raja-paksi-menguat-10-KNSx9l1AEj.jpg Tampil Perdana di BEI, Saham Gunung Raja Paksi Menguat 10% (Foto: Okezone.com/Taufik)

JAKARTA - PT Gunung Raja Paksi Tbk resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran saham perdana (initial public offering/IPO), pada perdagangan hari ini. Emiten berkode saham GGRP tersebut menjadi perusahaan ke-36 yang tercatat di tahun 2019.

 Baca Juga: Perusahaan Baja Gunung Raja Melantai di BEI Hari Ini, Ada Kejutan?

Perusahaan baja ini melepas 1.230.888.800 lembar saham ke publik atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan setelah IPO. Harga yang ditawarkan sebesar Rp840 per saham, dengan demikian perusahaan bakal meraup dana segar dari IPO sebesar Rp1,03 triliun.

 Baca Juga: Sempat Drop, IHSG Balik Menghijau ke 6.280

Saat pembukaan perdagangan, saham GGRP dibuka naik 10,12% dari harga IPO menjadi Rp925 per saham. Saham GGRP tercatat ditransaksikan satu kali dengan volume 100 lot saham dan menghasilkan nilai sebesar Rp9,25 juta.

 Saham Gunung Raja Paksi

Presiden Direktur Gunung Raja Paksi Alousius Maseimilian mengatakan bahwa dana dari IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi sekitar 99,52% akan digunakan untuk pelunasan utang dalam rangka pembelian aset tetap dan biaya operasi.

"Serta sekitar 0,48% akan digunakan untuk tambahan modal kerja. Dam harapan kami ke depan yakni bisa meningkatkan produktifitas untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang masih cukup luas," ujar dia di gedung BEI Jakarta, Kamis (19/9/2019).

 Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen

Menurut dia, pemain industri baja di Indonesia masih memiliki peluang yang sangat luas untuk bertumbuh, mengingat konsumsi baja per kapita Indonesia yang masih cukup rendah.

"Dan kapasitas produksi baja domestik yang masih belum bisa memenuhi permintaan. Sehingga membuat Indonesia masih melakukan impor baja," ungkap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini