nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Kapten Kartini, Sulitnya Pelaut Wanita Diterima di Perusahaan Pelayaran

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 09:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 19 320 2106668 kisah-kapten-kartini-sulitnya-pelaut-wanita-diterima-di-perusahaan-pelayaran-9hW8mMBFgS.jpg Kisah Kapten Kartini soal Pelaut Wanita (Foto: Okezone.com/Feby Novalius)

LABUAN BAJO - Kapten Kartini berbagi kisah saat seorang perwira atau pelaut wanita sulit berkarier di dunia maritim Indonesia. Sedikit bahkan hampir tidak ada perusahaan pelayaran yang mau menerima seorang pelaut wanita ketika itu.

 Baca Juga: Pertama Kalinya Indonesia Miliki Buku Putih Diplomasi Maritim

Kartini yang disebut sebagai nahkoda wanita pertama Indonesia menceritakan soal banyak perusahaan pelayaran yang tidak menerima perwira perempuan karena alasan teknis.

"Sulit berlayar dulu, karena perusahaan banyak yang ragu dan khawatir. Itu wajar, karena siapa yang mau menjamin kalau di kapal tidak ada apa-apa," ujarnya dalam diskusi Wanita Maritim Indonesia, Labuan Bajo, Kamis (19/9/2019).

 Baca Juga: Ancaman Maritim Meningkat, ASEAN Perkuat Ketahanan

Namun kondisi itu sekarang sudah berubah saat pemerintah melalui Dirjen Hubla Kemenhub menerbitkan aturan soal Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan, dan Surat Edaran Ditkapel Hubla Kemenhub No: UM.002/89/3/DK-17 tentang Pemenuhan/Pemberian Hak-hak Pelaut Perempuan.

"Sekarang tidak perlu khawatir karena sudah ada aturan dan kita harus berani," ujarnya.

 Kapten Kartini

Hanya saja, lanjut Kartini, wanita yang memutuskan menjadj pelaut dihadapkan dengan tantangan lain. Di Indonesia perwira wanita dilihat sebagai pekerjaan yang tidak biasa. Apalagi ketika wanita tersebut sudah menikah dan harus meninggalkan suami dan anak untuk melaut.

"Kodrat wanita menjadi perwira di Indonesia itu masih aneh. Harus tinggalkan suami, kalau mau melaut harus dapat izin keluarga. Kalau tidak, gagal melaut karena waktunya tidak sebentar," ujarnya.

 Kapal

Untuk itu, Kartini menyarankan, bagi wanita yang saat pendidikan mengambil akademi pelayaran harus sudah tahu nantinya akan kerja seperti ini. Wajib dipahami benar-benar apa saja tugas sebagai perwira negara.

"Jika memutuskan jadi pelaut, kita harus punya target sampai kapan. Karena tidak mungkin selamanya di laut. Lalu harus siap mental karena kehidupan di laut selalu tidak sama, ombak berubah-ubah dan macam-macam lah," ujarnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini