nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sri Mulyani Siapkan Dana Cadangan Rp10 Triliun, untuk Apa?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 26 September 2019 15:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 26 20 2109658 sri-mulyani-siapkan-dana-cadangan-rp10-triliun-untuk-apa-bzk8oA5XLf.jpg Ilustrasi Rupiah. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan dana cadangan alias buffer stock sebesar Rp10 triliun pada tahun depan. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan alokasi anggaran tahun ini yang hanya sekitar Rp8 triliun.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, dana cadangan ini memang setiap tahun dianggarkan untuk mengantisipasi defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan. Karena setiap tahunnya akan ada gejolak ekonomi yang masih kerap terjadi.

Baca Juga: Anggaran Kartu Sembako Rp28,1 Triliun, Orang Miskin Dapat Rp150.000/Bulan

"Kebijakan itu bisa kapan dipakai untuk mendukung stimulus dan mengendalikan APBN Kita. Buffer stock untuk 2019 sekitar Rp7 triliun sampai Rp10 triliun. Jadi nanti melihat risiko yang terjadi," ujarnya saat ditemui dk Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

APBN

Menurut Askolani, dana cadangan tidak akan digunakan untuk belanja. Melainkan untuk membackup jika sewaktu-waktu tidak tercapainya target ekonomi makro yang telah dirancang dalam RAPBN.

Misalnya ketika target penerimaan pajak tidak tercapai. Agar tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan menutupinya dengan anggaran.

Baca Juga: Curhat Sri Mulyani ke DPR: APBN 2020 Dihadapkan Dinamika Global hingga Geopolitik

Contoh lainnya ketika anggaran subsidi membengkak. Agar anggaran belanja tidak membengkak, maka pemerintah bisa menutupinya dengan anggaran buffer stock tersebut.

"Buffer itu karena melesetnya asumsi makro dan target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tapi kemungkinan lebih kecil dari 5,3% pada APBN dan bisa lebih rendah ke 5,1%. Melesetnya pertumbuhan ekonomi dampaknya ke pajak. Kemungkin kan ada shortfall," jelasnya.

Dampak shortfall tentu akan berdampak pada defisit, untuk mengurangi defsit tersebut maka dapat dikendalikan menggunakan dana cadangan. Apabila capaian defisit tidak jauh dari target maka dana cadangan tidak perlu dikeluarkan.

"Dampak shortfall akan dampak ke defisit, misalnya akan naik ke 2%. Untuk mengendalikan defisit, maka kita akan gunakan dana buffer untuk mengurangi defisit. Kita pakai ini, artinya tidak kita 0-kan. Dominannya untuk itu," kata Askolani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini