BI Permudah Beli Rumah, Industri Properti Bisa Langsung Moncer?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 26 September 2019 13:13 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 26 470 2109578 bi-permudah-beli-rumah-industri-properti-bisa-langsung-moncer-QsslZ7dnQA.jpg BI Permudah Beli Rumah, Industri Properti Langsung Moncer? (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan lagi suku bunga acuannya yaitu BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,25%.

BI juga mengeluarkan kebijakan untuk melonggarkan aturan Loan to Value ( LTV) dan Finance to Value (FTV) bagi pembiayaan kepemilikan properti, baik rumah tapak, rumah tinggal maupun rumah kantor dan rumah toko.

 Baca Juga: BI Longgarkan LTV, DP Pembelian Rumah Kedua Jadi Lebih Rendah

Adanya dua kebijakan baru dari Bank Indonesia tersebut diharapkan bisa menggairahkan industri properti yang belakangan ini sedang dalam kondisi melandai.

“Adanya penurunan suku bunga BI 7 Days Repo Rate menjadi 5,25% dan pelonggaran aturan LTV diharapkan bisa menjadi stimulus bagi industri properti di Indonesia terutama dalam penyaluran KPR bagi konsumen yang akan membeli hunian," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

 Baca Juga: Alasan BI Longgarkan Pembiayaan Sektor Properti Sebesar 5%

Dengan kebijakan tersebut, bank memiliki keleluasaan untuk mengambil risiko dalam menyalurkan kredit dan memberikan batas minimum uang muka (down payment) KPR juga akan bisa lebih ringan.

Landainya industri properti di tanah air juga tercermin dari Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019 di mana kepuasan secara umum terhadap iklim industri properti Indonesia sedang menurun. Iklim industri properti di tanah air saat ini tercatat meraih skor 31%, menurun dari skor 34% pada semester sebelumnya.

 KPR

Tingkat kepuasan terhadap industri properti Indonesia yang sedang menurun ini, menurut hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index disebabkan oleh value yang didapat antara properti yang ditawarkan dengan harga yang diminta semakin dianggap tidak wajar dan tidak senilai uangnya (worth the money).

Selain itu juga semakin banyak responden yang menganggap bahwa properti yang ditawarkan saat ini tidak menarik, sementara harganya terlalu tinggi.

Menurut Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H2 2019, selain suku bunga yang tinggi, ketidakpuasan konsumen terhadap iklim properti di Indonesia juga disebabkan oleh harga properti yang mahal atau malah overpriced (menurut 82% responden), harga properti yang terus meningkat (menurut 65% responden), kondisi ekonomi yang belum begitu baik (menurut 53% responden) dan keterbatasan pilihan pembiayaan yang bagus (menurut 37% responden).

Marine menjelaskan bahwa harga properti yang mahal dan terus meningkat memang selalu dipandang dari dua sisi. Bagi mereka yang optimistis, mereka melihatnya sebagai peluang investasi di masa depan, sementara mereka yang pesimistis, ini disebabkan keraguan terhadap kemampuan finansialnya. Mereka yang belum yakin dengan kemampuan kemungkinan adalah mereka yang masih awam atau kurang informasi.

“Sementara jika ada konsumen yang mengeluhkan suku bunga yang tinggi namun jika kita lihat berdasarkan data dan ditarik mundur, tingkat suku bunga yang berlaku saat ini tidak lebih tinggi dari suku bunga pada tahun 2015. Oleh karena itu, setelah dua kebijakan Bank Indonesia tersebut berlaku secara efektif maka diharapkan industri properti bisa menggeliat kembali," katanya.

 KPR

Ekonom PermataBank, Josua Pardede menambahkan bahwa keputusan BI untuk menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 75bps menjadi 5,25% sejak Juli 2019 sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global.

Penurunan suku bunga acuan BI diperkirakan akan langsung diikuti penurunan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB), yang pada umumnya akan direspon dengan penurunan suku bunga deposito yang selanjutnya akan mendorong juga penurunan suku bunga kredit.

“Transmisi kebijakan moneter ini yang pada akhirnya mempengaruhi suku bunga kredit, tidak terkecuali suku bunga kredit KPR. Dengan fakta bahwa BI sudah merelaksasi kebijakan makroprudensial nya dengan menurunkan LTV sejak Agustus 2018, maka diperkirakan bahwa apabila suku bunga KPR berpotensi turun menyesuaikan penurunan suku bunga acuan BI. Oleh karena itu, permintaan terhadap properti dan KPR diperkirakan akan berangsur naik paling cepat akhir tahun ini atau awal tahun depan,” katanya.

Josua juga menambahkan bahwa berdasarkan survei Bank Indonesia, indeks harga properti residential pada kuartal II-2019 menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, harga properti residential melambatdari 0,49% kuartal ke kuartal menjadi 0,20% dan secara tahunan melambat dari 2,04% menjadi 1,47%

“Peningkatan harga properti didorong oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja. Sementara, harga properti residential pada kuartal III 2019 diperkirakan masih mengalami kenaikan 1,76%. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, harga properti residential diperkirakan meningkat 1,82% dari kuartal II-2019 sebesar 1,47%. Kenaikan harga rumah diperkirakan terjadi pada rumah tipe kecil,” jelasnya.

 KPR

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini