nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Surat Direktur soal Pemberhentian Operasi Sriwijaya Air Diduga Bocor

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 30 September 2019 16:11 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 30 320 2111078 surat-direktur-soal-pemberhentian-operasi-sriwijaya-air-diduga-bocor-leoLXtpM3e.jpg Sriwijaya Air. (Foto: Okezone.com/Sriwijaya Air)

JAKARTA – Secara mengejutkan Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Subandoro melayangkan surat kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena. Dalam surat yang tertanggal 29 September 2019 tersebut merekomendasikan pemberhentian operasi maskapai Sriwijaya Air.

Kapten Toto mengatakan, surat tersebut merupakan masukan yang bersifat internal dan disampaikan kepada seluruh jajaran Top Management Sriwijaya Air dan NAM Air dengan maksud menghindari stop operasi.

Baca Juga: Tak Prioritaskan Keselamatan, Direktur Desak Sriwijaya Air Hentikan Operasi

“Pertama bahwa saya tidak pernah sama sekali membicarakan ini kepada pihak di luar perusahaan. Ini murni masukan yang hendak saya sampaikan dalam rapat managemen terkait temuan dan kondisi beberapa waktu yang lalu dan sifatnya kondisional saja,” ujar Toto dalam keterangan tertulisnya, Senin (30/9/2019).

Sriwijaya Air

Namun Toto meyakini, Sriwijaya Air dan NAM Air sudah dapat mengatasi permasalahan yang ada melalui Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.

“Kemarin Direktur Teknik pun sudah memberikan klarifikasi dan tanggapan atas temuan yang kami temukan. Kini semua sudah dapat diatasi dan Sriwijaya Air dan NAM Air dipastikan masih mengudara dibawah pengawasan DKPPU,” katanya.

Baca Juga: Kisruh Sriwijaya Air, Bagaimana Kelanjutan Kerja Sama dengan Garuda?

Sebelumnya, dalam surat tersebut dijelaskan DKPPU telah melaksanakan pengawasan dan evaluasi kegiatan operasi penerbangan berdasarkan kemampuan yang dimiliki Sriwijaya Air.

Toto pun menindaklanjuti DKPPU dengan menggelar pertemuan dan diskusi bersama Direktur Teknik pada 28 September 2019 untuk mendengar laporan dari pelaksana di lapangan, serta laporan dari inpector DGCA yang terus mengawasi.

Dari laporan tersebut diketahui bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara dan Menteri Perhubungan. Termasuk bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerjasama dengan JAS Engineering atau MRO lain terkait dukungan line maintenance.

Hal ini berarti risk index masih berada dalam zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada), yang dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Oleh karenta itu, Toto dalam surat itu menilai pemerintah sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijya Air stop operasi karena berbagai alasan. Apalagi, rekomendasi ini setelah diskusi dengan Direktur Teknik dan Direktur Operasi sebagai pelaksana safety.

"Kami merekomendasikan Sriwijaya Air menyatakan stop operasi atas inisiatif sendiri atau melakukan pengurangan operasional disesuaikan dengan kemampuan untuk beberapa hari ke depan, karena alasan memprioritaskan safety," jelas Toto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini