nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Frekuensi Penerbangan Turun hingga 50%, Berapa Kerugian Sriwijaya Air?

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 30 September 2019 19:41 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 30 320 2111183 frekuensi-penerbangan-turun-hingga-50-berapa-kerugian-sriwijaya-air-ohlYh149Lv.jpg Pesawat Sriwijaya Berpotensi Membahayakan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Sriwijaya Air menyebut ada pengurangan frekuensi penerbangan hingga 50%. Hal tersebut dikarenakan adanya masalah finansial perusahaan serta pemberhentian layanan jasa perawatan dan pemeliharaan dari anak usaha Garuda Indonesia, GMF Aero Asia.

 Baca Juga: 2 Direksi Sriwijaya Air Mengundurkan Diri

Direktur Operasi Sriwijaya Air Fadjar Semiarto mengatakan, semula ada 30 pesawat yang beroperasi namun dengan adanya ini hanya 12 unit pesawat saja yang beroperasi. Akibatnya, frekuensi penerbangan juga berkurang dari sekitar 245 menjadi 110 rute penerbangan per hari.

"Pesawat saja sudah lebih dari 50% kan dari 30 ke 12. Apalagi frekuensi penerbangannya, turun rutenya yang diterbangi dari 245 jadi 110-120-an per hari," ujarnya di Jakarta, Senin (30/9/2019).

 Baca Juga: Blakblakan Direktur Sriwijaya Mundur: Pesawat Berpotensi Membahayakan!

Selain itu lanjut Fadjar, terjadi penurunan layanan service kepada penumpang juga dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan pelayanan kepada penumpang disebabnya konflik yang kini menjerat perseroan, dari masalah keuangan hingga kesejahteraan pekerja.

Dalam sehari dirinya menandatangani biaya recovery kepada penumpang Rp1 miliar. Hal tersebut dihitung dari jumlah penumpang dan penerbangan yang dilayani oleh Sriwijaya Air.

“Rp1 miliar per hari. Dalam flight ada beberapa orang kalau 100 dalam satu jam kan biasa snack masuk ke dua jam makanan lengkap. Makanya pesawat itu cancel pilihan dia full refund maskapai lain,” katanya.

 Sriwijaya Air

Fadjar menambahkan pada saat kondisi penerbangan normal, dalam sehari ia menandatangani sekitar Rp200-300 juta per hari.

"Memang ada (recovery) Rp200-Rp300 juta, kondisi pesawat normal. Misal Jakarta - Ternate- Ujung Pandang. Waktu di Ujung Pandang ada problem dan starter. Tapi enggak sebanyak Jumat," katanya.

Fadjar pun mengaku sudah merekomendasikan agar perusahaan menghentikan operasional untuk sementara. Apalagi berdasarkan hasil pemeriksaan pesawat atau Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) dengan nilai 4A atau dalam kondisi merah.

Menurutnya, hal itu berpotensi membahayakan operasional penerbangan. Salah satu risiko bila operasional maskapai tetap dijalankan adalah soal pengadaan spare part ketika pesawat mengalami masalah.

"Kalau dilihat kan masalahnya di keuangan, tidak bisa bayar bengkel (GMF), tidak bisa beli sparepart. Misalnya kalau punya montir dan sopir, mobilnya bisa berproduksi baik enggak? Bisa jalan enggak atau kalau berhenti di tengah jalan bagaimana," katanya.

 Sriwijaya Air

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini