Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Frekuensi Penerbangan Turun hingga 50%, Berapa Kerugian Sriwijaya Air?

Giri Hartomo , Jurnalis-Senin, 30 September 2019 |19:41 WIB
Frekuensi Penerbangan Turun hingga 50%, Berapa Kerugian Sriwijaya Air?
Pesawat Sriwijaya Berpotensi Membahayakan (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Fadjar menambahkan pada saat kondisi penerbangan normal, dalam sehari ia menandatangani sekitar Rp200-300 juta per hari.

"Memang ada (recovery) Rp200-Rp300 juta, kondisi pesawat normal. Misal Jakarta - Ternate- Ujung Pandang. Waktu di Ujung Pandang ada problem dan starter. Tapi enggak sebanyak Jumat," katanya.

Fadjar pun mengaku sudah merekomendasikan agar perusahaan menghentikan operasional untuk sementara. Apalagi berdasarkan hasil pemeriksaan pesawat atau Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) dengan nilai 4A atau dalam kondisi merah.

Menurutnya, hal itu berpotensi membahayakan operasional penerbangan. Salah satu risiko bila operasional maskapai tetap dijalankan adalah soal pengadaan spare part ketika pesawat mengalami masalah.

"Kalau dilihat kan masalahnya di keuangan, tidak bisa bayar bengkel (GMF), tidak bisa beli sparepart. Misalnya kalau punya montir dan sopir, mobilnya bisa berproduksi baik enggak? Bisa jalan enggak atau kalau berhenti di tengah jalan bagaimana," katanya.

 Sriwijaya Air

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement