Nilai Batik Bukan Hanya sebagai Pakaian, Tetapi Identitas Diri

Maghfira Nursyabila, Jurnalis · Rabu 02 Oktober 2019 11:10 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 02 320 2111852 nilai-batik-bukan-hanya-sebagai-pakaian-tetapi-identitas-diri-Rgx9UdjVQA.jpg Hari Batik. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Terkait Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 September, kini batik dinilai bukan hanya menjadi baju, melainkan menjadi ciri, identitas bahkan penanda.

Menurut Sekretariat Kabinet (Seskab) Anung Pramono, Indonesia memiliki banyak corak yang beraneka ragam, setiap daerah mempunyai batik, inilah, yang harus dirawat, harus dijaga, karena bagaimanapun batik sudah mendunia. Bahkan hampir seluruh pemimpin besar dunia sudah pernah memakai baju batik dan mereka bangga memakai baju batik.

Baca Juga: Unik, Tribun Stadion Manahan Berbentuk Motif Batik Kawung

“Kita harus bangga memakai baju batik dan daerah-daerah sekarang ini sudah mengembangkan baju batik dengan pola, dengan tipe, dengan corak yang beraneka ragam, dan ini tetap harus dirawat, tetap harus ditumbuhkan dan tetap harus menjadi kebanggaan bangsa Indonesia,” ujar Anung seperti yang dikutip dalam Setkab, Rabu (2/10/2019).

Batik

Selain itu, Seskab Pramono Agung juga menolak anggapan bahwa batik masih dianggap budaya orang-orang tua dan tidak dalam masa kekinian. Dia menilai bahwa kini di dalam istana pun sudah terbiasa melihat seseorang memakai sneaker yang di padu padankan dengan batik ditambah celana jeans dan itu menjadi hal yang biasa.

Baca Juga: Hari Batik, Main di Pasar Global IMK Harus Berani Inovasi

“Ini menunjukkan bahwa kalangan milenial hari ini sudah bisa menerima batik dengan sangat baik,” imbuhnya.

Anung mengaku bahwa dirinya tetap memakai batik walaupun ia sedang memakai sneaker dan hal itu menunjukkan bahwa batik mengalami proses penyesuaian dan akulturasi yang luar biasa.

Asal tahu saja, Karena Indonesia dinilai kaya akan batik, Anung juga memaparkan pola batik yang sering ia kenakan seperti, Kawung, Pekalongan, Lasem, juga Sekar Jagat, Sidoluhur, Mega Mendung, Kediri, Malang, Cirebon, Tasikmalaya, dan termasuk Sasirangan.

“Saya memakai batik saya ini tergantung mood dan tergantung warna, dan itu ada di seluruh batik Indonesia. Sehingga dengan demikian corak batik kita sudah tidak terperangkap pada pakem yang dulu, sekarang sudah mengalami perubahan,” Imbuhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini