nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Defisit Transaksi Berjalan Bisa Melebar di Atas 3%? Ini Kata Bos BI

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 11 Oktober 2019 15:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 11 20 2115732 defisit-transaksi-berjalan-bisa-melebar-di-atas-3-ini-kata-bos-bi-0LT4tCtxgG.jpg Bos BI soal Defisit Transaksi Berjalan (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meramal defisit transaksi berjalan alias current account defisit (CAD) di triwulan III-2019 berada di kisaran 2,5% hingga 3%. Pada triwulan II sendiri, Neraca Pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar USD2 miliar.

 Baca Juga: BI Prediksi Defisit Transaksi Berjalan 2019 Melebar ke 2,5%-3%

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, angka ini masih tetap berada dalam batas aman dan sesuai dengan prediksi dari Bank Indonesia. Ditambah lagi, dirinya memperkirakan penilaian mengenai stabilitas eksternal masih terjaga.

“CAD masih perkiraan 2,5%-3% dan bulan lalu surplus neraca dagang kami masih menunggu perhitungan akhir dari BPS,” ujarnya saat ditemui di Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

 Baca Juga: BI: Download Games Bikin Defisit Neraca Pembayaran Melebar

Menurut Perry, masih terjagannya CAD di kisaran 2,5% hingga 3% tidak terlepas dari rapor positif dari neraca perdagangan pada Agustus 2019 mengalami surplus sebsar USD85,1 juta.

 Gubernur BI

Sementara itu, neraca perdagangan pada September masih baru akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik pada tanggal 15 Oktober 2019. Perry berharap, neraca perdagangan pada Oktober 2019 mengalami surplus kembali.

“Kita tunggu tapi secara keseluruhan itu masih menunjukkan triwulan III 2,5-3% dan konsisten dengan assessment kita terhadap stabilitas eksternal terjaga dengan indikator Terlihat dari cad 2,5-3% dan pembiayaan atau pendanaan CAD masih memadai terutama didukung PMA dan investasi porotofolo ke SBN,” katanya.

Menurut perry, pembiayaan untuk CAD mengingat aliran modal asing masih sangat besar menyusul kepercayaan investor asing kepada Indonesia masih tinggi. Hal tersebut terlihat dari angka modal asing yang masuk hingga pekan kedua Oktober 2019 mencapai Rp195,5 triliun.

Dari total portofolio itu, sebanyak Rp140,6 triliun masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Kemudian Rp52,59 trilun masuk ke pasar saham, dan sisanya masuk ke obligasi korporasi.

"Modal asing sampai 10 Oktober total inflow year to date Rp195,5 triliun total protofolio. SBN Rp140,6 triliun kemudian yang saham adalah Rp52,9 triliun dan sisannya obligasi koorporasi, SBI," katanya.

 Gubernur BI

Lebih lanjut, Perry menyebutkan bahwa week to date, sampai dengan 10 Oktober, SBN yang masuk sebesar Rp3,04 triliun. Kendati demikian, terjadi aliran modal asing keluar (capital outflow) di saham Rp0,36 triliun. Adapun nett inflow-nya tercatat sebesar Rp25,4 triliun.

Menurut Perry, jika melihat data aliran modal asing tersebut cukup membuktikan bahwa kepercayaan investor untuk tanamkan modal ke dalam negeri masih tinggi. Selain itu, lanjutnya, investor masih menilai imbal hasil dari pasar Indonesia menarik.

“Week to Date 10 Oktober SBN masuk Rp3,04 triliun, saham keluar Rp0,36 triliun. Net WTD inflow Rp2,54 triliun. Ini menunjukan konfiden terhadap ekonomi Indonesia dan yield dometik terkait SBN masih cukup kuat terbukti arus investasi portofolio,” katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini