nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lagi Tren Co-Living, Prospek Menggiurkan bagi Investor Properti

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 11 Oktober 2019 14:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 11 470 2115693 lagi-tren-co-living-prospek-menggiurkan-bagi-investor-properti-f2ZX71iulL.jpeg Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban. Namun saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan, pengembangan konsep co-living ini sebenarnya mirip seperti kos-kosan. Lewat konsep Co-Living ini, masyarakat bisa tinggal bersama dengan fasilitas umum yang juga dapat dipakai bersama.

Baca juga: Menteri Sofyan: Kita Permudah Investor Sektor Properti

Dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya. Mengingat kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dengan lokasi strategis masih sangat besar.

“Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain di bisnis ini,” ujarnya di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Rumah

Menurut Ferry, berdasarkan data jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota belum banyak. Sebab kebanyakan pemain apartemen atau hunian sewa di tengah kota lebih diperuntukkan bagi kelas menengah atas.

Sehingga kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan. Sedangkan kos-kosan yang ada saat ini konsepnya pun belum sesuai harapan para pekerja.

“Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih kayak apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living,” jelasnya.

Oleh karena itu, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian co-living masih terbuka lebar. Pengembangan co-living opsinya bisa bermacam-macam, contohnya developer yang bangun, terus menjual ke investor untuk disewakan. Atau juga bisa developer mendirikan satu bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri.

“Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis co-living biasanya hidup dari penyewaan,” jelas Ferry.

Baca juga: Sri Mulyani 'Skak' Pengusaha Properti Lewat Pertumbuhan, Ini Faktanya!

Tidak hanya itu, Ferry menjelaskan apabila ada konsep hunian seperti apartemen yang ukurannya bisa diperkecil dan dibentuk co-living dengan harga mendekati kos-kosan, akan banyak peminatnya. Karena dirinya meyakini hunian yang lebih rapih juga bonafit, bisa lebih laku dibandingkan kos-kosan biasa.

Rumah

“Properti yang harus digerakkan itu yang bisa menjangkau end user dan bisa diterima soal harga, konsep dan lokasi seperti co-living ini. Investor bisa masuk ke segmen bisnis ini karena punya potensi yang sangat besar, dan pemainnya juga belum banyak,” kata Ferry.

Sementara itu salah satu pemain bisnis co-living yakni PT Hoppor International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga mengamini hal tersebut.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan dirinya melihat bahwa masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat besar. Oleh karena itu, dirinya mencoba membuat sebuah konsep yang memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau.

Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis. Dari semua yang tersedia, seluruhnya memiliki akses transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

“Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,” kata Charles.

Baca juga: 'Skak' Pengusaha Properti, Sri Mulyani: Kapan Bisa Tumbuh 10%?

Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini, Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Dimana Kamar Keluarga membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti, dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi Operator. Kamar Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan konsep co-living di kosan tersebut.

Rumah

Lalu pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dapat memanfaatkan lahan yang tersisa. Lahan sisa tersebut dapat dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.

Dan pilar kelima yaitu Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan.

“Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena investor diuntungkan,” tutup Charles.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini