Hong Kong Resmi Resesi, Negara Lain Menyusul?

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Jum'at 01 November 2019 20:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 01 20 2124733 hong-kong-resmi-resesi-negara-lain-menyusul-HYpl8L2m31.jpg Hong Kong Resesi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Hong Kong jatuh ke dalam resesi untuk pertama kalinya dalam satu dasawarsa pada kuartal III-2019, terbebani oleh protes anti-pemerintah yang semakin keras. Selain itu, perang dagang AS-China yang berkepanjangan juga jadi penyebab utamanya.

Protes yang berlangsung selama lima bulan telah menghancurkan sektor ritel dan pariwisata kota yang dikuasai China itu dan belum ada tanda-tanda demonstrasi akan mereda. Polisi memperketat keamanan pada hari Kamis karena bentrokan yang lebih parah sangat berpotensi terjadi.

 Baca Juga: Resesi Ekonomi 2020 Diprediksi Paling Parah Dibanding 1998

Ekonomi Hong Kong menyusut 3,2% pada Juli-September dari periode sebelumnya, berkontraksi untuk kuartal kedua berturut-turut dan memenuhi definisi teknis dari resesi.

Dari tahun sebelumnya, produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi 2,9%. Angka tersebut adalah yang terlemah untuk pusat keuangan Asia sejak krisis keuangan global pada 2008/2009.

 Baca Juga: Hong Kong Memasuki Resesi Imbas Unjuk Rasa yang Belum Juga Berakhir

Pemerintah juga merevisi turun data PDB kuartal kedua untuk menunjukkan pertumbuhan 0,4% tahun ke tahun, dari perkiraan awal 0,6% dan kemudian 0,5%. Kuartal demi kuartal setelah direvisi turun menjadi -0,5%, dibandingkan perkiraan awal -0,3% dan selanjutnya -0,4%.

"Permintaan domestik memburuk secara signifikan," ujar pemerintah Hong Kong, demikian dilansir dari CNBC, Jumat (1/11/2019).

"Ketika kondisi ekonomi yang melemah melemahkan sentimen konsumen dan demonstrasi skala besar menyebabkan gangguan besar pada sektor ritel, katering dan lainnya yang terkait dengan konsumen, pengeluaran konsumsi swasta mencatat penurunan dari tahun ke tahun untuk pertama kalinya dalam lebih dari 10 tahun," lanjutnya.

 Resesi

Pemerintah mengatakan bahwa tanpa tanda-tanda protes berkurang, konsumsi swasta dan sentimen investasi akan terus terpengaruh.

Beberapa bisnis Hong Kong telah meminta karyawan untuk mengambil cuti yang tidak dibayar saat para wisatawan menghindari pertempuran yang terkadang berlangsung keras antara pengunjuk rasa dan polisi di area-area perbelanjaan utama dan mal-mal.

Capital Economics mengatakan dalam sebuah catatan penelitian bahwa sementara PDB mungkin akan terus berkontraksi pada kuartal keempat, laju kontraksi akan mereda tanpa eskalasi lebih lanjut dalam demonstrasi.

"Setiap pemulihan akan terhambat oleh investasi bisnis yang lemah. Namun, krisis politik kota telah merusak reputasinya sebagai pusat keuangan yang stabil dan otonom," katanya dalam sebuah catatan.

Protes dan meningkatnya kekerasan telah menjerumuskan bekas jajahan Inggris tersebut ke dalam krisis politik terbesarnya dalam beberapa dasawarsa dan membuat banyak orang terkesima dalam komunitas bisnis dan keuangan.

 Sinyal Resesi

Para pengunjuk rasa marah pada apa yang mereka lihat sebagai meningkatnya campur tangan Beijing di kota yang dikuasai China itu. China menyangkal campur tangan dan menuduh pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, yang justru menimbulkan masalah.

Maka dari itu, Carrie Lam memperingatkan pada hari Selasa bahwa pertumbuhan setahun penuh tersebut bisa saja berkontraksi.

Hampir semua mesin pertumbuhan di pusat keuangan Asia macet selama musim panas ketika toko-toko tutup untuk menghindari bentrokan antara polisi anti huru hara dan pengunjuk rasa, sementara perang perdagangan AS-China semakin intensif. Hong Kong adalah salah satu tujuan wisata paling populer di dunia dan pelabuhan kontainer yang ramai.

Penjualan ritel yang turun paling banyak dari tahun-ke-tahun yaitu pada Agustus. Selain itu, jumlah wisatawan yang datang juga turun secara parah. Terakhir kali terjadi ketika Sindrom Pernafasan Akut Parah melanda Hong Kong pada 2003.

Pekan lalu, pemerintah mengumumkan langkah-langkah bantuan sebesar HKD2 miliar (USD255 juta) untuk mendukung perekonomian, khususnya dalam industri transportasi, pariwisata dan ritel. Ini juga mendesak pemilik tanah untuk memotong harga sewa untuk bisnis yang kesulitan.

Tetapi tidak ada jaminan Beijing akan datang untuk menyelamatkan Hong Kong seperti yang telah dilakukan selama penurunan sebelumnya, kadang-kadang melonggarkan pembatasan pengunjung daratan untuk meningkatkan pariwisata.

“Tidak ada penyelesaian permasalahan uang untuk Hong Kong, selamanya," kata seorang ekonom independen yang berbasis di Shanghai Andy Xie.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini