JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar impor besi, baja dan petrokimia bisa ditekan terus. Karena hingga saat ini, ketiga barang tersebut menjadi salah satu penyumbang defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan.
Baca Juga: Jokowi Prediksi Indonesia Tak Lagi Impor Bahan Petrokimia dalam 4 Tahun
Berdasarkan data BPS, impor bahan baku atau bahan baku penolong memberikan kontribusi yang besar, yaitu 74,06% dari total impor Januari sampai Oktober 2019. Sedangkan impor barang modal angkanya mencapai 16,6%, dan impor barang konsumsi 9,29%.
"Kalau kita lihat lebih dalam lagi jenis barang bahan baku yang masih besar angka impornya antara lain adalah besi baja yang mencapai USD8,6 miliar, dan industri kimia organik atau petrokimia yang mencapai USD4,9 miliar, dan juga industri kimia dasar," ujarnya di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Baca Juga: Pemerintah Batasi Penggunaan Baja Impor Mulai 20 Januari
Jika melihat data tersebut, Jokowi meminta agar jajaran menterinya bisa membuka investasi pada barang-barang substitusi impor. Dirinya pun meminta kepada Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk memangkas kebijakan yang menghambat investasi.
"Berarti tadi besi baja, industri petrokimia harus betul-betul, harus dibuka karena ini merupakan substitusi impor. Ini tolong ini jadi catatan BKPM, jadi catatan Pak Menko Maritim dan Investasi (Luhut Binsar Panjaitan)," katanya.