nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investor Rusia, Perancis hingga Jepang Lirik Proyek PLTN

Dina Prihatini, Jurnalis · Rabu 11 Desember 2019 17:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 11 320 2140718 investor-rusia-perancis-hingga-jepang-lirik-proyek-pltn-ivdvhcr6gI.jpg Pembangkit Listrik (Foto: Dok PLN)

PONTIANAK - Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Kalimantan Barat hingga akhir tahun 2019 dilirik oleh beberapa negara.

Tahun ini saja, Prancis dan Jepang melalui perwakilan masing-masing negara mendatangi Bumi Khatulistiwa untuk mengetahui keseriusan Kalbar dalam pembangunan yang direncanakan di beberapa kabupaten yang dianggap berpotensi dalam membangun kawasan nuklir.

Baca Juga: Berisiko dan Biaya Tinggi, Rencana PLTN Perlu Dikaji Ulang

Sebelumnya bahkan Rusia juga telah hadir untuk meneliti dan mengetahui kesiapan sumber daya alam (SDA) termasuk sumber daya manusia (SDM) yang telah ada.

Gubernur Kalbar Sutarmidji menjelaskan bahwa PLTN merupakan kebutuhan akan energi yang murah. Kehadiran perwakilan Jepang, dijelaskan Bang Midji sapaan akrabnya bahwa salah satu langkah sosialisasi selain perencanaan kedepan terkait persiapan model yang paling aman sehingga harus ada koordinasi secara terus menerus.

Baca Juga: Indonesia Kaji Bangun PLTN, Ini Sederet Faktor yang Harus Diperhitungkan

"Jadi harus terus dibicarakan, jangan hari ini ngomong nanti dibicarakan lagi tahun depan. Kapan mau realisasi. Sementara yang intens dengan kita itu Jepang dan Prancis," ungkapnya kepada Okezone usai menerima rombongan Jepang, Rabu (11/12/2019).

Dia berharap meski pembangunan PLTN di Kalbar baru sebatas penelitian, namun masyarakat harus mendukung pembangunan ini menuju Kalbar maju dan sejahtera.

Meski pembangunan PLTN ini harus terlebih dahulu masuk dalam RPJMN, namun ia berkeyakinan bahwa hal tersebut harus diperjuangkan.

"Perencanaannya sebenarnya sudah. Kalau kita lihat Fukushima ketika terkena tsunami saja masih aman, itu dari sisi keamanan. Karena kalau tidak, kita tidak bisa mengolah sumber daya alam kita, kalau diolah orang terus nanti kita jadi penonton," tegasnya.

Sementara itu, Nakayama dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta didampingi Toba dan Takimoto dari JICC menjelaskan jika pihaknya baru pertama kali jika disetujui maka Kalbar menjadi satu-satunya Provinsi di Indonesia yang bekerjasama dengan Negara Jepang melalui tenaga nuklir.

"Kami masih menunggu keputusan pemerintah Indonesia mau membangun atau tidak. Kami melihat keseriusan yang begitu tinggi di Kalbar untuk membangun PLTN," tuturnya.

Dia berpendapat mengapa memilih Kalbar karena Jepang menganggap wilayah Kalimantan menjadi kawasan strategis dalam membangun PLTN baik dari sisi SDM maupun SDA.

"Kalau dilihat secara bangunan, tentu pemilihan lokasi yang aman sangat diperlukan, itu akan distudi, pada umumnya Kalbar relatif merupakan tempat yang stabil. Mungkin dari segi tempat tsunami juga tidak ada, jadi cocok bagus di Kalbar ini," paparnya.

Dekan Fakultas Tekhnik Universitas Tanjungpura Pontianak Rustamaji yang ikut hadir memaparkan jika pembangunan harus sinkron dengan rencana pembangunan nasional yaitu RPJMN.

"Sebagai perguruan tinggi di Kalbar tentu dapat mendukung kebijakan pemerintah provinsi maupun nasional. Kita juga harus mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat," urainya.

Dia mengakui bahwa tidak ada pengalaman negara setelah berhasil membangun nuklir dan menerima manfaat dari PLTN yang tidak didahului oleh penolakan masyarakat.

"Tetapi bagaimana caranya sehingga pada akhirnya bisa meyakinkan masyarakat. Jadi pengetahuan harus ditransfer demi mereka dan teknologinya menjadi tugas kita mengembangkannya dan setelah itu kita harus membangun secara mandiri," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini