JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memberikan penjelasan terkait banjir Jakarta hari ini. Menurutnya, masih kurangnya normalisasi Kali Ciliwung menjadi salah satu penyebab banjir tersebut.
Menurut Basuki, belum dinormalisasi kali Ciliwung membuat terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya. Maka itu dari itu, harus berdiskusi dengan Gubernur DKI Anies Baswedan untuk membuat program itu ke depannya, termasuk di Kali Pesanggarahan juga dengan sodetan Kali Ciliwung ke Banjir Kanal Timur.
Baca juga: Hujan Ekstrem Berlanjut, Menteri PUPR Turunkan Pegawai ke 180 Titik
Namun, Anies Baswedan memberikan pandangan berbeda atas pernyataan Menteri Basuki terkait penyebab banjir Jakarta. Dirinya mengatakan banjir tersebut dikarenakan dibiarkannya air dari selatan masuk ke Jakarta.

“Dan tidak ada pengendalian dari selatan, maka apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," tutur dia.
Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (4/1/2020), berikut Okezone telah merangkum fakta terkait normalisasi kali Ciliwung:
Baca juga: Pengiriman E-Commerce dan Makanan Mandek karena Banjir Jabodetabek
1. Normalisasi baru 16 km
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, normalisasi kali Ciliwung baru mencapai 16 km. Padahal, targetnya penanganan kali Ciliwung mencapai 33 km.
“Di 16 km itu kita lihat insya Allah aman dari luapan," ujar Basuki.
2. Dibutuhkan kerja sama antar pihak terkait
Basuki menjelaskan, kendala normalisasi pasti ada, untuk itu dibutuhkan kerja sama antar pihak terkait. "Ini bukan hal yang mudah. Ini keahlian beliau (Anies) untuk persuasif. Tanpa itu, pasti akan menghadapi kejadian berulang seperti ini," katanya.
Baca juga: Viral Dirut KAI Naik Getek Berkursi Cek Banjir, Ternyata Ini Alasannya
3. Penjelasan Gubernur DKI soal Normalisasi Kali Ciliwung
Sementara itu, Gubernur DKI Anies Baswedan memberikan pandangan berbeda atas pernyataan Menteri Basuki terkait penyebab banjir Jakarta hari ini.
"Mohon maaf pak Menteri Basuki saya harus berpandangan karena tadi bapak menyampaikan. Jadi, selama air dibiarkan dari selatan masuk ke Jakarta dan tidak ada pengendalian dari selatan, maka apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," tutur dia.
Pihaknya sudah menyaksikan pada Maret 2019 di Kampung Melayu yang sudah dilakukan normalisasi itu pun mengalami banjir ekstrem. Artinya, kuncinya itu ada pada pengendalian air sebelum masuk pada kawasan pesisir.