nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kali Ciliwung Dinormalisasi demi Tangkal Banjir, Ini Faktanya!

Vania Halim, Jurnalis · Sabtu 04 Januari 2020 07:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 03 320 2148936 kali-ciliwung-dinormalisasi-demi-tangkal-banjir-ini-faktanya-k5wKS728C6.jpg Banjir (Okezone)

JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memberikan penjelasan terkait banjir Jakarta hari ini. Menurutnya, masih kurangnya normalisasi Kali Ciliwung menjadi salah satu penyebab banjir tersebut.

Menurut Basuki, belum dinormalisasi kali Ciliwung membuat terjadinya banjir di Jakarta dan sekitarnya. Maka itu dari itu, harus berdiskusi dengan Gubernur DKI Anies Baswedan untuk membuat program itu ke depannya, termasuk di Kali Pesanggarahan juga dengan sodetan Kali Ciliwung ke Banjir Kanal Timur.

 Baca juga: Hujan Ekstrem Berlanjut, Menteri PUPR Turunkan Pegawai ke 180 Titik

Namun, Anies Baswedan memberikan pandangan berbeda atas pernyataan Menteri Basuki terkait penyebab banjir Jakarta. Dirinya mengatakan banjir tersebut dikarenakan dibiarkannya air dari selatan masuk ke Jakarta.

 KAI

“Dan tidak ada pengendalian dari selatan, maka apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," tutur dia.

Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (4/1/2020), berikut Okezone telah merangkum fakta terkait normalisasi kali Ciliwung:

 Baca juga: Pengiriman E-Commerce dan Makanan Mandek karena Banjir Jabodetabek

1. Normalisasi baru 16 km

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, normalisasi kali Ciliwung baru mencapai 16 km. Padahal, targetnya penanganan kali Ciliwung mencapai 33 km.

“Di 16 km itu kita lihat insya Allah aman dari luapan," ujar Basuki.

2. Dibutuhkan kerja sama antar pihak terkait

Basuki menjelaskan, kendala normalisasi pasti ada, untuk itu dibutuhkan kerja sama antar pihak terkait. "Ini bukan hal yang mudah. Ini keahlian beliau (Anies) untuk persuasif. Tanpa itu, pasti akan menghadapi kejadian berulang seperti ini," katanya.

 Baca juga: Viral Dirut KAI Naik Getek Berkursi Cek Banjir, Ternyata Ini Alasannya

3. Penjelasan Gubernur DKI soal Normalisasi Kali Ciliwung

Sementara itu, Gubernur DKI Anies Baswedan memberikan pandangan berbeda atas pernyataan Menteri Basuki terkait penyebab banjir Jakarta hari ini.

"Mohon maaf pak Menteri Basuki saya harus berpandangan karena tadi bapak menyampaikan. Jadi, selama air dibiarkan dari selatan masuk ke Jakarta dan tidak ada pengendalian dari selatan, maka apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan airnya," tutur dia.

Pihaknya sudah menyaksikan pada Maret 2019 di Kampung Melayu yang sudah dilakukan normalisasi itu pun mengalami banjir ekstrem. Artinya, kuncinya itu ada pada pengendalian air sebelum masuk pada kawasan pesisir.

4. Anies Baswedan Ingin 2 Bendungan untuk Kendalikan Volume Air

Anies mengatakan, Kementerian PUPR sedang menyelesaikan dua bendungan. Kalau dua bendungan itu selesai, maka volume air yang masuk ke pesisir bisa dikendalikan.

“Kalau bisa dikendalikan, insya Allah bisa dikendalikan. Tapi selama kita membiarkan air mengalir begitu saja, selebar apa pun sungainya, maka volume air itu akan luar biasa. Karena makin banyak kawasan yang digunakan untuk perumahan, sehingga air pun mengalir ke sungai," kata dia.

5. Masterplan dari penyelesaian banjir sinkron

Maka itu, dirinya berharap ada langkah cepat penuntasan pengendalian air sebelum masuk kawasan pesisir. Tapi pada fase ini yang penting warga selamat penanganan cepat.

"Setelah itu kita duduk bersama untuk memastikan bahwa master plan dari penyelesaian banjir ini sinkron," pungkas dia.

6. Melanjutkan program normalisasi Ciliwung

Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan untuk melanjutkan kembali program normalisasi Sungai Ciliwung. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menanggulangi banjir yang merendam beberapa wilayah Ibu Kota dalam tiga hari terakhir ini.

Seperti diketahui, era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok Pemprov DKI kerap menggalakkan program normalisasi sungai. Namun, seiringnya waktu, setelah Anies didapuk menjadi orang nomor satu di Ibu Kota, ia menghentikan program tersebut.

“Normalisasi harus dilaksanakan harus ditindaklanjuti tidak bisa tertunda tunda lagi,” kata Prasetyo.

7. Belum siap menghadapi Banjir

Menurut Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi, peristiwa banjir yang terjadi di Jakarta sekarang ini, karena Pemprov DKI belum siap menghadapi musibah tahunan tersebut. Ia menyebut, itu terbukti ketika dirinya menemukan kejadian berupa beberapa alat pompa air yang tidak berfungsi secara maksimal.

“Saya tadi melihat di Gunung Sahari ada satu pompa yang kebetulan buat nyedot air keluar itu artinya enggak siap padahal itu produk tahun 2019. Nah, hal-hal seperti ini sebetulnya dipersiapkan menjelang (musim hujan-red),” tuturnya.

Prasetyo mengimbau kepada Dinas Sumber Daya Air untuk lebih giat bekerja pada tahun 2020, seperti mengeruk kali dan melakukan pembebasan lahan untuk menormalisasi sungai.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini