nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tips Mencermati Laporan Keuangan Emiten

Sabtu 25 Januari 2020 10:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 24 278 2157650 tips-mencermati-laporan-keuangan-emiten-gwZuwxSMOr.jpg Ilustrasi Pergerakan IHSG. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Keputusan membeli saham, idealnya didasari dukungan informasi yang memadai dan perhitungan yang cermat. Informasi krusial yang perlu diketahui tentu saja berkaitan dengan kinerja Perusahaan Tercatat yang sahamnya hendak dibeli, selain soal prospek, track record, manajemen, dan latar belakang pemegang saham pengendali.

Sumber informasi soal kinerja tentu saja dari laporan keuangan. Bagi investor maupun calon investor, laporan keuangan ini dapat dijadikan acuan untuk membuat riset sederhana tentang kondisi fundamental Perusahaan Tercatat, sekaligus menilai prospek perusahaan bersangkutan.

Agar memiliki informasi yang lebih komprehensif, investor juga perlu mendapatkan dokumen resmi laporan tahunan (Annual Report) yang lazimnya disajikan sangat mendetail, termasuk transaksi-transaksi penting di balik angka kinerja yang akan mempengaruhi masa depan perusahaan.

Baca Juga: Turun 42%, BEI Cermati Pergerakan Saham ENVY

Agar dapat membuat riset sederhana, seorang investor atau calon investor perlu memiliki gambaran sederhana tentang cara memahami Laporan Tahunan Perusahaan Tercatat tersebut. Langkah pertama, penting untuk mencermati laporan direksi atau manajemen perusahaan.

Pada bagian ini pimpinan perusahaan memberi gambaran umum tentang perjalanan perusahaan selama setahun terakhir, prospek, serta recana bisnis ke depan. Langkah berikutnya adalah mencermati angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan.

Informasi penting yang perlu dicermati meliputi: laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, serta catatan atas laporan keuangan. Pada prinsipnya, laporan posisi keuangan menggambarkan posisi keuangan perusahaan per tanggal yang disajikan. Informasinya berupa catatan tentang aset, liabilitas (utang), serta ekuitas (modal). Aset adalah segala sesuatu yang dimiliki perusahaan, sedangkan kewajiban dan ekuitas merupakan gambaran tentang apa dilakukan perusahaan untuk memperoleh atau membiayai aset.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Melemah

Ada beberapa poin penting dalam laporan laba rugi yang perlu diketahui. Pertama, pos pendapatan usaha. Poin ini bisa memperlihatkan perusahaan dalam tren positif atau sebaliknya dari sisi operasional. Berita baik jika pendapatan usaha perusahaan dalam posisi positif, terutama bila tumbuh secara konsisten dalam beberapa tahun.

Langkah berikut melihat posisi laba bersih setelah pajak. Laba bersih perusahaan menentukan besarnya laba bersih per saham. Laba bersih per saham dapat menjadi indikasi awal untuk besarnya dividen yang akan dibagikan untuk pemegang saham, tentunya dengan membandingkan dengan tren pembagian dividen pada perusahaan tersebut di tahun-tahun sebelumnya.

Perlu bagi seorang investor untuk membandingkan pendapatan usaha dan laba bersih antara beberapa Perusahaan Tercatat dalam satu sektor. Tujuannya untuk memastikan Perusahaan Tercatat mana yang membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lebih tinggi pada sektor yang sama serta untuk menentukan apakah pendapatan dan laba yang dihasilkan suatu perusahaan cukup normal jika dibandingkan dengan perusahaan yang menjalankan jenis usaha yang sama.

Ada beberapa rasio keuangan yang juga penting dicermati. Pertama, net profit margin (NPM). Pos ini menggambarkan tentang profitabilitas perusahaan. Nilai NPM berasal dari laba bersih dibagi pendapatan usaha. Semakin besar nilai NPM, semakin efisien perusahaan tersebut.

Sedangkan return on equity (ROE) memberikan gambaran perbandingan antara laba yang dihasilkan dengan modal yang disetorkan pemegang saham (ekuitas). Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian hasil investasi. Nilai ROE yang baik biasanya di atas 20%, namun besarannya akan berbeda-beda tergantung jenis kegiatan usaha dan ukuran suat perusahaan. Semakin tinggi ROE, semakin bagus atau semakin optimal kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal.

Rasio ketiga adalah earning per share (EPS) atau laba bersih per saham. Angka EPS diperoleh dengan membagi laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar. Nilai EPS tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghitung rasio price-to-earning ratio (PER) yang diperoleh dengan membagi harga per lembar saham dengan EPS. Nilai PER tersebut kemudian dibandingkan dengan PER industri yang sejenis untuk menilai apakah harga suatu saham undervalued atau overvalued relatif terhadap laba bersih di antara perusahaan sejenis.

Nilai buku perusahaan atau book value juga perlu dicermati. Nilai buku per saham diperoleh dengan membagi total ekuitas dengan jumlah lembar saham dalam modal disetor. Nilai buku per saham tersebut kemudian dapat digunakan untuk menghitung rasio price-to-book value (PBV) yang didapat dengan membagi harga per lembar saham dengan nilai buku per saham. PBV akan sangat berguna jika suatu perusahaan dalam kondisi distress atau diindikasikan tidak memiliki prospek usaha.

Misalnya, suatu perusahaan yang dalam kondisi distress yang laporan keuangannya disajikan secara wajar idealnya akan memiliki nilai PBV sama dengan 1. Jika suatu saat perusahaan tersebut mengalami pailit dengan kondisi PBV sama dengan 1, pemegang saham akan mendapatkan pembagian aset perusahaan dengan nilai yang sama dengan nilai saham yang dimilikinya. Suatu perusahaan yang memiliki prospek usaha yang bagus biasanya akan memiliki nilai PBV di atas 1. (TIM BEI)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini