nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

LPS Tutup 9 BPR Sepanjang 2019

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 24 Januari 2020 20:53 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 24 320 2157990 lps-tutup-9-bpr-sepanjang-2019-lAHnE6bYL5.jpg Perbankan. Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah menutup 9 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sepanjang tahun 2019. Hal itu mempengaruhi jumlah BPR yang masih beroperasi hingga akhir 2019 menjadi sebanyak 1.704 bank, turun dari 1.754 bank di akhir 2018.

"Jumlah BPR berkurang di samping ada akuisisi dan merger, juga karena ada 9 BPR yang dicabut izin usahanya pada tahun 2019," ujar Plt Kepala Eksekutif LPS Didik Madiyono dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Menurutnya, penutupan 9 BPR itu membuat jumlah bank yang sudah dilikuidasi sebanyak 101 bank, terhitung sejak tahun 2005 LPS beroperasi hingga akhir tahun 2019. Jumlah itu terdiri dari 100 BPR dan 1 bank umum.

Baca Juga: Perkuat Modal Inti, OJK Bakal Terbitkan Aturan Merger BPR

Dia menjelaskan, total simpanan dari 101 bank yang tutup tersebut sebesar Rp1,92 triliun dengan total 259.178 rekening. Terdiri dari dana simpanan bank umum Rp357 miliar dan BPR Rp1,56 triliun.

Dari klaim simpanan tersebut yang merupakan layak bayar sebesar Rp1,55 triliun atau hanya 81,1% dari total simpanan. Angka itu juga setara 242.015 rekening atau 93,3% dari total rekening.

"Itu terdiri dari bank umum Rp186 miliar dan BPR senilai Rp1,37 triliun," katanya.

Sedangkan simpanan yang tidak layak bayar senilai Rp363 miliar atau setara 18,9% dari total simpanan. Angka itu mencakup 17.163 rekening atau setara 6,7% dari total rekening.

Baca Juga: 240 BPR Tak Sanggup Penuhi Syarat Minimum Modal

Simpanan yang tak layak bayar itu terdiri dari bank umum sebesar Rp171 miliar dan BPR sebesar Rp192 miliar. Menurut Didik, ada tiga faktor yang menyebabkan simpanan menjadi tidak layak bayar.

Pertama, karena bunga yang diterima nasabah melebihi dari ketentuan suku bunga penjaminan yang ditetapkan LPS. Persoalan ini terjadi pada 72,45% dari total simpanan yang tak layak bayar.

Kedua, adanya rekayasa simpanan, di mana rekening seolah-olah ada aliran dana yang masuk. Kasus ini mencakup 12,17% pada total simpanan yang tak layak bayar.

"Terakhir karena menyebab bank tidak sehat atau karena kredit macet. Ini jumlahnya 15,38% dari total simpanan yang tak layak bayar," tutup Didik.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini