Marak Investasi Bodong, Ini Cara Mengenalinya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 02 Februari 2020 19:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 02 320 2162189 marak-investasi-bodong-ini-cara-mengenalinya-UeKUiL9HD8.jpeg Ilustrasi Investasi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Perencana keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini menyebut, setidaknya ada empat ciri yang harus dicermati masyarakat ketika berinvestasi.

Pertama, harus ada izin investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lalu, calon investor juga dianjurkan untuk memperhatikan tingkat keuntungan yang dijanjikan.

"Sebagai calon investor harus paham mana yang realistis dan mencurigakan. Kita harus tahu standar tingkat keuntungan di berbagai produk investasi berapa. Kalau menjanjikan pendapatan reguler seperti deposito maka dapatnya bulanan. Kalau melebihi itu, kita harus mulai curiga, ini apa bisnisnya?" jelas Mike seperti dikutip dari BBC Indonesia, Minggu (2/2/2020).

Baca Juga: Warren Buffett Jadi Korban Investasi Bodong dengan Skema Ponzi

Ketiga, masyarakat mesti jeli pada klaim 'tidak ada risiko'.

"Jadi yang menawarkan investasi, biasanya mengklaim bahwa untungnya tinggi, tidak berisiko atau aman 100%. Sebagai orang yang menanamkan uang, ini investasi yang menguntungkan karena kita taruh uang, pasti dapat untung. Padahal kan enggak ada yang pasti dalam berinvestasi," jelas Mike.

"Misalnya emas, pasti harganya naik turun kan? Saham juga begitu," imbuhnya.

Terakhir, calon investor patut menanyakan jenis bisnis yang dijalankan. "Bisnisnya apa? Cuma terima uang, tiba-tiba dapat hadiah. Dia (investor) ini memutar uangnya ke mana? Kan kasih hadiah perlu beli, duitnya dari mana?," kata dia.

Dari pengamatannya, korban investasi bodong tidak mengenal tingkat pendidikan. Sebab pengetahuan tentang finansial tidak diajarkan di sekolah.

Baca Juga: Penipuan Investasi Bodong Memiles Capai Rp750 miliar

Dia menambahkan, mayoritas orang menginginkan untung tanpa risiko dan keinginan semacam ini akan semakin menjerumuskan calon investor yang kurang jeli.

Itu mengapa, kata Mike, investasi bodong terus menjamur.

"Orang Indonesia itu terkenal ikut-ikutan. Padahal orang terkenal atau seleb belum tentu melek finansial. Terlalu gampang percaya tanpa menganalisis apakah sistem investasi itu masuk akal atau enggak," tukasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini