nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Permintaan Penerbangan Turun Imbas Covid-19, Maskapai Global Rugi Hingga Rp398,29 Triliun

Irene, Jurnalis · Jum'at 21 Februari 2020 14:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 02 21 320 2172056 permintaan-penerbangan-turun-imbas-covid-19-maskapai-global-rugi-hingga-rp398-29-triliun-3kL5SUkiL2.jpeg Pesawat Terbang (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Permintaan perjalanan udara global akan mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak tahun 2009 pasca wabah virus korona yang masih menggema di China. Hal ini disampaikan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).

Penghentian perjalanan dan permintaan yang menurun menyusul peringatan penyakit Covid-19 yang menyebar dengan cepat telah mendorong para operator untuk menunda layanan bahkan secara drastis mengurangi layanannya ke dan dari China. Kelompok perdagangan, yang mewakili sebagian besar maskapai penerbangan dunia yang sebelumnya telah memperkirakan pertumbuhan permintaan pada tahun 2020 sebesar 4,1% kini merevisinya menjadi kontraksi 0,6%.

Baca Juga: Fakta-Fakta Pemerintah Siapkan 'Obat' Penangkal Virus Korona untuk Maskapai

Perkiraan tersebut menghasilkan asumsi bahwa sebagian besar virus masih terkonsentrasi di China. Akan tetapi, IATA memberi peringatan bahwa dampak virus itu dapat membesar jika menyebar ke pasar lain di wilayah tersebut.

"Maskapai membuat keputusan sulit untuk memangkas kapasitas dan dalam beberapa kasus rute. Biaya bahan bakar yang lebih rendah akan membantu mengimbangi sebagian dari pendapatan yang hilang. Ini akan menjadi tahun yang sangat sulit bagi maskapai penerbangan," ujar CEO IATA Alexandre de Juniac dalam rilisnya, seperti dilansir dari CNBC, Jumat (21/2/2020).

Baca Juga: Rampung Pekan Depan, Hitung-hitungan Insentif untuk Maskapai Dilaporkan ke Jokowi

Permintaan yang menurun tersebut kemudian akan membebani maskapai penerbangan global lebih dari USD29 miliar atau Rp398,29 triliun (kurs Rp13.734 per USD) yang sebagian besar berada di kawasan Asia Pasifik. Sedangkan maskapai penerbangan China akan kehilangan pendapatannya sebesar USD12,8 miliar atau Rp175,79 triliun karena wabah mematikan tersebut.

“Ini adalah masa yang menantang bagi industri transportasi udara global. Menghentikan penyebaran virus adalah prioritas utama. Maskapai mengikuti panduan Organisasi Kesehatan Dunia dan otoritas kesehatan publik lainnya untuk menjaga keselamatan penumpang, dunia terhubung, dan virus terkandung,” pungkas Alexandre.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini