Amankan Rupiah dari Virus Corona, Bagaimana Cadangan Devisa Indonesia?

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 26 Maret 2020 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 26 20 2189475 amankan-rupiah-dari-virus-corona-bagaimana-cadangan-devisa-indonesia-UrrRaWKWsG.jpg Bank Indonesia (Reuters)

JAKARTA - Bank Indonesia menyebut cadangan devisa Indonesia masih sangat mencukupi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil. Meskipun saat ini, ada sedikit penurunan cadangan devisa untuk menahan agar nilai tukar rupiah tidak tembus Rp17000 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, cadangan devisa masih sangat mencukupi untuk stabilisasi nilai tukar. Bahkan termasuk untuk upaya tripple intervension pun, cadangan devisa RI masih sangat cukup.

 Baca juga: Cadangan Devisa Turun USD1,7 Miliar Menjadi ke USD130 Miliar

Mengutip data BI pada akhir Februari 2020 jumlah cadangan devisa Indonesia tercatat USD130,4 miliar. Angka ini menurun dibandingkan posisi Januari 2020 yang sebesar USD131,7 miliar.

Angka cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penurunan cadangan devisa pada Februari 2020 dipengaruhi oleh pembayaran ULN pemerintah.

 Baca juga: Awal 2020, Cadangan Devisa Indonesia Naik ke USD131,7 Miliar

"Cadangan devisa masih lebih dari cukup, dengan adanya tekanan tentu ada penurunan. Jumlah cadangan devisa masih cukup untuk upaya kami menstabilisasi nilai tukar rupiah, termasuk triple intervension," ujarnya dalam teleconfrence, Kamis (26/3/2020).

Memang menurut Perry, cadangan defisit merupakan ujung tombak pertama untuk menahan pelemahan rupiah. Namun, pihaknya juga memiliki secondline of defense seperti bilateral swap dengan sejumlah bank sentral negara lain untuk stabilitas nilai tukar rupiah.

Misalnya saja bilateral swap dengan Bank Sentral China sebesar USD30 miliar. Kemudian ada juga bank sentral Jepang hingga Singapura dengan dana sebesar USD22,7 miliar, 10 miliar dolar Singapura.

"Kami berkomunikasi dengan bank sentral AS untuk bilateral swap ini. Kami yakinkan, jumlah cadangan devisa lebih dari cukup," jelasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini