5 Cara Sukses WFH, Komunikasi Jelas dan Jangan Gunakan Laptop di Kasur

Senin 13 April 2020 11:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 13 320 2198274 5-cara-sukses-wfh-komunikasi-jelas-dan-jangan-gunakan-laptop-di-kasur-IM4Og7yJwX.jpg WFH (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Sejumlah perusahaan telah menerapkan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah menyusul maraknya Covid-19. Meski dari rumah, pekerjaan harus bisa maksimal.

Meski terlihat WFH menyenangkan, namun ada saja kendala yang akan dihadapi para pekerja. Misalnya, salah persepsi karena komunikasi tidak dilakukan dengan tatap muka. Atau karyawan bekerja di atas kasur sehingga terkadang tertidur. Berikut cara sukses bekerja dari rumah seperti dikutip BBC, Jakarta, Senin (13/4/2020).

1. Tingkatkan intensitas komunikasi

Baik karena virus corona atau bukan, kunci utama bekerja dari rumah adalah komunikasi yang jelas dengan atasan. Ketahuilah secara jelas perihal yang mereka tuntut dari Anda.

"Miliki ekspektasi yang jelas dalam komunikasi sehari-hari," kata Barbara Larson, profesor ilmu manajemen di Northeastern University, Boston, yang mendalami kebiasaan bekerja jarak jauh.

Baca Juga: 6 Trik Work from Home agar Maksimal, Jangan Lupa Buat Daftar Tugas!

"Bertanyalah pada manajer Anda, apakah mereka keberatan berkomunikasi selama 10 menit saat memulai dan mengakhiri hari kerja. Seringkali mereka tidak memikirkannya," ujar Larson.

Kebanyakan orang menghabiskan waktu mereka Close Proximity dengan atasan mereka. Artinya, komunikasi adalah hal sepele dan tak membutuhkan usaha besar.

Namun itu tidak terjadi pada situasi kerja di luar kantor. Hambatan komunikasi terjadi jika kantor Anda tidak terbiasa dengan pola kerja jarak jauh.

Baca Juga: 5 Cara Profesional Hadapi Sederet Problem Teknis Work from Home

Alasannya, menurut Larson, bisa jadi karena manajer Anda tidak biasa memimpin tim secara virtual atau karena perusahaan Anda tidak memiliki perangkat kerja yang memungkinkan Anda kerja dari rumah, seperti aplikasi komunikasi Slack atau program konferensi video Zoom.

Walau begitu, bahkan bagi mereka yang terbiasa tidak bekerja di kantor, pola kerja jarak jauh bisa membuat kinerja Anda tidak terstruktur dan membuat Anda terisolasi.

Tahun 2019, sebuah survei terhadap 2.500 pekerja jarah jauh yang dilakukan Buffer, agensi pengembangan merek online, menemukan bahwa kesepian adalah salah satu hambatan utama yang dirasakan 19% responden.

 WFH

Rasa kesepian itu bisa membuat orang kehilangan motivasi dan tidak produktif

Jadi jika Anda berkomunikasi dengan atasan dan kolega saat bekerja dari rumah, itu akan menjadi solusi. Asalkan, kata Larson, komunikasi itu terjadi melalui medium yang memungkinkan Anda saling bertatap muka, antara lain aplikasi telepon video seperti Skype dan Zoom.

"Tak memikirkan kepentingan pekerjaan adalah masalah utama bagi mereka yang bekerja dari rumah," kata Sara Sutton, CEO sekaligus pendiri FlexJob, sebuah situs internet yang mengiklankan tawaran pekerjaan jarak jauh.

"Pegawai yang bekerja di luar kantor bisa masuk kategori terbaik jika berkomunikasi secara rutin dengan kolega dan manajer mereka," tuturnya.

'Anggap sebagai pekerjaan sungguhan'

2. Jangan Bekerja di Atas Kasur

Ada pula sejumlah tips yang bisa dilakukan terkait ini. Misalnya, walau Anda bisa bermalas-malasan dengan piyama, tapi bukan berarti Anda pantas melakukannya.

"Mandi dan kenakan pakaian yang pantas. Anggap pekerjaan Anda sebagai sesuatu yang nyata," ujar Larson.

Jika Anda tidak mempunyai ruang kerja di rumah, sebisa mungkin Anda menciptakannya secara khusus.

"Tidak memiliki ruang kerja bisa menurunkan produktivitas," kata Sutton. Baginya, menggunakan monitor ganda serta tetikus dan papan ketik nirkabel bisa menggenjot produktivitasnya.

Jadi agar tidak bekerja dengan laptop di atas tempat tidur, cobalah cara lain yang bijak. Siasatnya bisa saja semudah memindahkan meja samping tempat tidur ke ujung ruangan yang jauh dari gangguan

Bisa juga dengan meletakkan laptop Anda di meja dan Anda duduk di kursi tegak, situasi seperti di kantor Anda. Dalam cara ini, Anda perlu mewaspadai sakit di sekitar leher dan punggung.

3. Batasan Ruang Kerja

Melalui sejumlah pendekatan ini, Anda memberi pertanda penting kepada mereka yang tinggal dengan Anda bahwa Anda tengah bekerja.

"Ciptakan batasan di rumah yang dimengerti oleh anggota keluarga Anda. 'Ketika pintu saya tertutup, anggap saja saya tidak di rumah,'" kata Kristen Shockley, asisten profesor ilmu psikologi di University of Georgia.

Dalam ruang kerja yang bisa membuat Anda berkonsentrasi, lebih mudah untuk mencapai titik maksimal saat bekerja dari rumah.

Dalam survei terhadap 7.000 karyawan tahun 2019 oleh FlexJobs, 65% responden menyebut mereka lebih produktif saat bekerja dari rumah. Alasan kebanyakan dari mereka adalah gangguan yang minimal dari rekan kerja, menghindari politik kantor serta stres yang muncul dalam perjalanan dari rumah ke kantor.

Namun penting pula untuk memulai dan mengakhiri jam kerja di rumah. Dalam jajak pendapat yang dilakukan Buffer, keluhan yang banyak muncul terhadap pola kerja dari rumah adalah ketidakmampuan mengakhiri jam kerja.

Jika Anda tidak bisa berkendaraan atau masuk dan keluar kantor, yang menunjukkan batasan jelas tentang jam kerja, Shockley menyarankan sebuah transisi fisik.

Metode itu bisa memberi Anda pola pikir yang tepat. Transisi itu bisa berupa waktu minum kopi selama 20 menit pada pagi hari dan berolahraga, baik sebelum memulai atau mengakhiri jam kerja.

"Jika mengasuh anak bukan persoalan, Anda akan lebih mudah bekerja dari rumah. 'Ada pakaian kotor yang harus saya cuci, saya harus menyelesaikannya dengan cepat'. Anda harus memiliki persepsi bahwa Anda memang sedang benar-benar bekerja," kata Shockley.

Meski menggunakan sejumlah pendekatan ini, transisi kerja dari kantor ke rumah yang mendadak dan penuh paksaan sulit dihadapi oleh sekelompok orang.

"Virus corona mendorong setiap orang masuk ke situasi kerja yang ekstrem dari rumah," ujar Nicholas Bloom, profesor ilmu ekonomi di Stanford University, Amerika Serikat.

Bloom menyebut dua jenis pola kerja dari rumah, yaitu yang dalam jangka pendek atau situasional atau yang permanen. "Ini seperti membandingkan latihan ringan dengan persiapan marathon," tuturnya.

Pola kerja dari rumah masih terbilang jarang, kata Bloom. Hanya 5% dari angkatan kerja Amerika Serikat yang menyatakan bahwa mereka menjalankan pekerjaan dari rumah secara tetap.

Seiring penyebaran virus corona, tidak jelas berapa lama para pekerja akan berkegiatan dari rumah, perihal yang memunculkan persoalan lain.

Para orang tua misalnya akan kesulitan fokus bekerja jika anak-anak mereka juga di rumah akibat penutupan sekolah. Artinya, komunikasi dengan atasan yang membutuhkan saling kepemahaman merupakan hal penting.

4. Tekankan Saling Percaya

Karantina berkepanjangan juga berpotensi mempengaruhi psikologi dan produktivitas pekerja. Itulah mengapa Larson menyarankan perusahaan berusaha meneruskan kondisi normal dan sikap saling percaya dalam kondisi yang tidak biasa.

Cara yang dianjurkannya, antara lain pesta makan pizza secara virtual atau menikmati koktail bersama-sama melalui Slack atau Skype.

"Itu adalah cara yang baik untuk menjaga kebersamaan. Mungkin aneh, tapi semua orang merasakan hal yang sama, jadi itu akan terasa menyenangkan," kata Larson.

Dia menyebut itu sebagai mentalitas bahwa 'kita semua melalui ini bersama-sama'. "Cara tersebut menambah unsur kesembronoan dan keringanan terhadap situasi yang sulit," tuturnya.

Sutton juga mendukung ide menyalurkan aktivitas sosial di kantor secara daring. "Rayakan ulang tahun, berikan pujian terhadap target yang tercapai serta proyek yang telah selesai. Luangkan waktu untuk saling berbincang dan ngobrol ringan saat rehat kerja," ujar Sutton.

Jangan buat kesalahan karena ini adalah periode yang berat. Kabar buruk, cemas diri sendiri atau orang tua yang kita sayangi jatuh sakit, serta bergulat saat berbelanja tisu toilet bisa berdampak buruk.

Namun semakin baik upaya lebih yang Anda berikan untuk berkomunikasi dengan kolega, maka semakin besar pula peluang Anda mencegah nuansa negatif selama masa karantina yang bisa berujung depresi ini.

"Secara umum, periode bekerja dari rumah selama dua hingga empat pekan bisa menyakitkan secara personal maupun ekonomi, walau sebenarnya itu dapat Anda tahan," kata Bloom.

"Semakin panjang masa kerja dari rumah itu, misalnya dua sampai tiga bulan, maka akan ada ongkos kesehatan dan ekonomi besar yang harus Anda tanggung."

Bloom sepakat bahwa solusinya adalah interaksi saling tatap wajah yang sesering mungkin melalui telepon video maupun pemeriksaan kerja yang rutin oleh manajer, terutama bagi karyawan yang tinggal sendiri dan merasa sendirian.

Pertemuan tak resmi yang rutin seperti mengambil kopi atau minuman lain juga dianggapnya penting.

5. Jaga Psikologi Tim

Jika Anda adalah manajer, tanggung jawab menyediakan saluran komunikasi yang lancar adalah tanggung jawab Anda. Begitu pula upaya untuk menjaga psikologi anggota tim Anda.

"Mudah sekali depresi hari-hari ini. Jika Anda adalah manajer, akuilah jika ada tekanan dan kesulitan. Tugas Anda adalah menjadi penyemagat tim," kata Bloom.

Itu adalah siasat jitu jika orang-orang bekerja dari rumah lebih dari dua pekan, sebuah kemungkinan yang sangat bisa terjadi.

"Ciptakan kondisi kerja seperti itu. Jagalah semangat rekan-rekan kerja Anda," ujar Larson.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini