Kimia Farma Ungkap Penurunan Impor Bahan Baku Obat hingga 25%

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 21 April 2020 18:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 21 320 2202730 kimia-farma-ungkap-penurunan-impor-bahan-baku-obat-hingga-25-c9QXBHmzqI.jpg Penanganan Virus Corona di Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Kimia Farma (Persero) mencatat penurunan impor bahan baku obat hingga 25%. Saat ini perseroan sedang mengoptimalkan produksi bahn baku dari pabrik-pabrik di dalam negeri.

Tercatat ada beberapa pabrik bahan baku obat yang digunakan Kimia Farma seperti di Banjara dan Cikarang. Selain itu, Kimia Farma juga memiliki pabrik rapid test di Bali.'

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo mengatakan, optimalisasi pabrik tersebut merupakan salah satu wujud membangun ketahanan industri kesehatan dalam negeri. Mengingat saat ini angka impor bahan baku obat-obatan masih sangat tinggi.

Baca Juga: Menteri Rini Rombak Lagi Direksi BUMN, Verdi Budidarmo Jadi Dirut Kimia Farma

"Diharapkan pada 2023 kita bisa menurunkan impor bahan baku obat hingga 25,8%," ujarnya dalam rapat virtual dengan Komisi VI DPR, Selasa (21/4/2020). .

Sejak 2016, perseroan terus melakukan pengembangan pada pabrik-pabrik bahan baku yang telah disepakati oleh Kementerian Kesehatan. Fasilitas tersebut bahkan sudah mulai memproduksi sejak tahun lalu.

Bahkan, pabrik-pabrik milik perseroan telah mampu memproduksi sejumlah obat seperti obat kolesterol dan pengencer darah. Bahkan, ada 82 industri farmasi dalam negeri yang tertarik membeli produk tersebut.

Verdi menambahkan Kimia Farma saat ini juga sedang fokus dalam pengembangan bahan baku obat yang terkait dengan penanganan Corona. Perusahaan telah melakukan sejumlah kajian dengan landasan protokol yang dikeluarkan dokter paru.

Ada sejumlah obat alternatif untuk menangani Corona. Misalnya saja remdesivir, favipiravir, chloroquin, hydroxy chloroquin, dan Lopinavor ritonavir.

Namun perseroan memerlukan sejumlah dukungan agar lebih maksimal dalam melakukan pengembangan bahan baku obat. Sangat penting untuk memberikan kepastian pasar di dalam negeri, perlindungan pasar domestik, fasilitasi pasar global, insentif pajak, hingga area khusus industri.

"Kimia Farma mulai melakukan pengembangan bahan baku obat sejak 2016 sesuai dangan peta jalan yang disepakati Kemenkes dan fasilitas itu mulai produksi 2019," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini