Tak Capai Target, Pemerintah Bakal Lelang Surat Utang Lagi

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 29 April 2020 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 29 20 2206742 tak-capai-target-pemerintah-bakal-lelang-surat-utang-lagi-jcFTsVt3Ev.jpeg Surat Utang Ilustrasi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah meraup Rp16,6 triliun dari lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dilakukan Kementerian Keuangan dengan rata-rata imbal hasil atau yield-nya adalah 8,08%.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, dalam lelang tersebut dana yang didapat berada di bawah target. Sebab, total penawaran yang masuk mencapai Rp44,4 triliun, sementara target indikatifnya mencapai Rp20 triliun.

Oleh karena itu, pemerintah dikabarkan akan kembali membuka lelang tambahan dengan harga yield 10 tahun 8,08%. Nantinya hasil lelang ini diharapkan bisa.menutupi target dana yang terkumpul untuk menambal defisit APBN.

Baca Juga: Lelang SBN Capai Rp16,6 Triliun, Perry Warjiyo: Rp2,3 Triliun dari Bank Indonesia

"Pemerintah hari ini saya dengar akan membuka lelang tambahan dengan harga seperti kemarin targetnya Rp23,38 triliun karena sisa target kemarin," kata Perry, dalam telekonferensi, Rabu (29/4/2020).

Di lelang tambahan ini, BI bisa mengajukan bid atau penawaran dengan jumlah yang sama seperti lelang SBN kemarin yakni Rp7,5 triliun. Namun BI akan tetap mengutamakan para pelaku pasar untuk melakukan penawaran.

"Dalam lelang itu, BI sebagai non kompetitif bid, artinya kita ngebid tapi nggak dihitung dalam perhitungan harga. Kita hanya sampaikan jumlahnya dan harganya ditentukan dari bid oleh pasar. BI tidak ikut dalam perhitungan harga di pasar itu," jelasnya.

Perry pun menambahkan pada lelang kedua atau lelang tambahan ini juga belum memenuhi target, pemerintah bisa melakukan lelang tahap ketiga. Namun lelang ketiga ini akan dilakukan secara private.

"Kalau belum cukup juga bagaimana? Nanti bisa tahap ketiga yaitu private placement, bisa perbankan, BI atau pemerintah. Harganya mengacu pada harga pasar terkini, sesuai yang diterbitkan oleh PHEI (Penilai Harga Efek Indonesia)," kata Perry.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini