Share

Pemerintah Batal terbitkan Pandemic Bond, Kenapa?

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 08 Mei 2020 13:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 08 20 2211015 pemerintah-batal-terbitkan-pandemic-bond-kenapa-ZlqTiM9yHZ.jpg Covid-19 (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk batal menerbitkan surat utang khusus pandemi corona yang bertajuk Pandemic Bond. Sebelumnya, pandemi bondi ini ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dana khusus penanganan dampak pandemi virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman mengatakan, penerbitan SBN dalam rangka pandemi covid-19 tidak dilakukan melalui seri khusus (pandemic bond). Akan tetapi nantinya penerbitan surat utang ini akan menjadi bagian dari penerbitan SBN secara keseluruhan seperti lelang, ritel maupun private placement baik dalam dan atau luar negeri.

 Baca juga: Terbitkan 3 Seri SBN, Sri Mulyani: Ini USD Bond Terbesar dalam Sejarah Indonesia

"Pandemic bond, tadi yang sudah disepakati kan above the line, kami tidak menerbitkan khusus mau namanya pandemic bond atau apapun namanya untuk biayai above the line ini," ujarnya dalam teleconfrence, Jumat (8/5/2020).

Menurut Lucky, dalam lelang tersebut nantinya Bank Indonesia akan kembali masuk pada pasar perdana sebagai the last resort untuk membeli SBN yang diterbitkan oleh pemerintah. Hal ini juga sesua dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) nomor 1 tahun 2020.

 Baca juga: Terbitkan Global Bond, Menkeu: Diterbitkan Secara Online

"BI diperbolehkan masuk pasar perdana dalam bentuk last resort. Jadi kita masuk lelang seri biasa bukan khusus pendemic bond dan bond khusus lainnya," jelasnya.

Selain itu, nantinya pembiayaan pemulihan ekonomi nasional (PEN) akan diambil dengan menggunakan skema khusus bersama dengan Bank Indonesia. Adapun skema tersebut yakni Below the line, yang mana nantinya yieldnya akan ditentukan oleh hasil kesepakatan antara pemerintah dengan Bank Indonesia.

"Sedangkan below the line untuk PEN, sedang dipikirkan, work out, nanti disampaikan," kata Luki.

 Baca juga: RI Negara Pertama Terbitkan Surat Utang Global di Tengah Pandemi Covid-19

Sebagai informasi, sisa penerbitan SBN Rp 856,8 triliun yang merupakan pembiayaan defisit anggaran APBN 2020 ini akan dipenuhi melalui beberapa skema yakni lelang di pasar domestik, penerbitan SBN ritel, penerbitan obligasi negara lewat private placement, dan penerbitan SBN valas.

Untuk periode kuartal II-2020, rata-rata lelang SBN baik SUN (surat utang negara) maupun SBSN (surat berharga syariah negara) per 2 minggu berkisar antara Rp 35-Rp 45 triliun dair mulai kuartal II hingga IV.

Estimasi pencapaian lelang meningkat dari perolehan lelang surat utang pemerintah pada 2018-2019 sekitar Rp20 triliun. Di sisi lain, penerbitan surat utang tidak akan hanya dipenuhi oleh pasar, namun juga bank sentral nasional.

Pemerintah mengestimasikan Bank Indonesia (BI) setidaknya bisa membeli surat utang berkisar Rp106 triliun sampai Rp242 triliun. Proyeksi ini merujuk pada kapasitas pasar pada 2018-2019.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini