JAKARTA - Maskapai Virgin Australia terkena dampak siginifikan akibat pandemi virus corona. Pendapatan yang nyaris terhenti membuat maskapai kesulitan dalam waktu kurang dari dua bulan.
Menurut Seorang Dosen Manajemen Transportasi Singapore Institute of Technology Professor Volodymyr Bilotkach, apa yang terjadi pada runtuhnya Virgin Australia Holdings menjadi bukti nyata bahwa maskapai di dunia sedang alami pelemahan.
Baca Juga: Produksi Turun 97%, Penyedia Ketering Pesawat Minta Insentif
Di tengah pandemi seperti ini, para maskapai sedikit memiliki waktu untuk mengamankan dana sebelum mereka menyerah pada corona virus.
"Kita harus terbiasa dengan berita semacam ini. Kita akan melihat lebih banyak maskapai tenggelam," ujarnya, dilansir dari straitstimes, Kamis (14/5/2020).
Baca Juga: Avianca, Maskapai Tertua Kedua di Dunia Ajukan Kebangkrutan ke Pengadilan AS
Virgin Australia menunjukkan bahwa industri penerbangan tidak melebih-lebihkan dalam meningkatkan alarm bahwa kondisi sekarang sangat berat. Apalagi pemerintah Australia menolak permintaan awal Virgin Australia untuk pinjaman USD1,3 miliar.
Chief Executive Officer Paul Scurrah mengatakan, beberapa proposal lain untuk mendapatkan bantuan dari negara juga ditanggapi yang sama. Sampai permintaan terakhir hanya USD200 juta ditolak.