Investor Tak Tertarik, Dolar AS Lesu

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2020 07:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 04 278 2224233 investor-tak-tertarik-dolar-as-lesu-VMWejEbFPo.jpg Dolar AS Melemah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah 11 minggu terhadap sekeranjang mata uang lainnya pada hari Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB).

Dolar AS melemah di tengah optimisme bahwa penurunan ekonomi terburuk akibat pandemi virus corona segera berakhir.

Baca Juga: Sinyal Ekonomi Rebound dari Corona, Wall Street Meroket 

Melansir Reuters, Jakarta, Kamis (4/6/2020), indeks dolar terhadap sekeranjang mata uang utama turun 0,32% menjadi 97,26 dan turun ke level 97,18, terlemah sejak 12 Maret.

Tanda-tanda pemulihan ekonomi terlihat dari menguatnya Wall Street di tengah kerusuhan AS.

Selera risiko yang meningkat telah mengurangi permintaan untuk greenback, yang diuntungkan dari pembelian safe haven ketika pasar bergejolak dan investor enggan untuk mengambil risiko.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Dekati USD40/Barel di Tengah Keraguan OPEC 

"Kami pikir kemunduran luas dalam dolar AS menyajikan peluang pembelian yang menarik, tetapi mengakui mungkin masih ada ruang untuk kelemahan tambahan dalam waktu dekat," kata analis Wells Fargo.

Data AS pada hari Rabu menunjukkan bahwa gaji swasta AS turun kurang dari yang diharapkan pada bulan Mei, menunjukkan PHK mereda ketika bisnis dibuka kembali meski pemulihan ekonomi secara keseluruhan dari pandemi Covid-19 akan lambat.

 Rupiah Menguat 40 Poin dari Dolar AS di Tengah Ancaman Korona

Aktivitas industri jasa AS juga mendorong level terendah 11 tahun pada bulan Mei, meskipun bisnis tidak terburu-buru untuk mempekerjakan kembali pekerja saat mereka membuka kembali.

Namun, Greenback naik 0,22% terhadap yen Jepang menjadi 108,90 yen, setelah sebelumnya mencapai 108,98 yen, tertinggi sejak 9 April.

Dolar Australia yang telah menjadi salah satu yang Mata uang berkinerja terbaik dari peningkatan selera risiko, naik 0,49% menjadi USD0,6928, setelah sebelumnya mencapai USD0,6983, tertinggi sejak 3 Januari.

Euro naik 0,65% menjadi USD1,1242, setelah mencapai tertinggi USD1,1251, tertinggi sejak 12 Maret.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini