Proyek Food Estate, Wamen BUMN Tunjuk RNI Garap Sawah Baru di Kalteng

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 24 Juni 2020 08:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 24 320 2235364 rni-dapat-jatah-garap-sawah-baru-di-kalteng-ZoUzAQXnaX.jpg Lahan Pertanian untuk Lumbung Pangan Baru. (Foto: Okezone.com/PUPR)

JAKARTA - Pemerintah resmi menunjuk PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) untuk mengerjakan intensifikasi lahan rawa di Kalimantan Tengah. Di mana lahan tersebut ditargetkan akan menjadi lumbung pangan baru Indonesia. Pada tahap awal intensifikasi, RNI akan mengerjakan lahan seluas 30 ribu hektare (Ha).

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menyebut, proyek food estate dikomandoi langsung oleh Kementerian Pertanian. Sedangkan Kementerian BUMN bersama RNI ikut mendukung rencana program tersebut agar berhasil dan memberikan manfaat bagi peningkatan ketahanan pangan.

"Jadi kita di sini yang mengerjakan RNI. Kita ikut di belakangnya Kementan yang mengkoordinasikan pupuk dan bibit. Sementara off taker atau penyerap hasil panen ada Bulog," ujar dia usai mengikuti Rakor Pangan di Kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (23/6/2020).

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Tak Ada Pemotongan Anggaran di Sektor Pertanian

Tahap awal yang akan digarap untuk melakukan intensifikasi lahan seluas 30 ribu ha dari total rencana kawasan food estate seluas 164 ribu hektare. Namun dirinya tak merinci akan menggunakan anggaran siapa.

"Kita akan berikan support atau dukungan berdasarkan anggaran kementerian dan lembaga. Namun kita pun juga ada beberapa pilot project yang kita uji coba sendiri dengan anggaran kita," ungkap dia.

Baca Juga: Apa Kabar Pak Tani di Tengah Covid-19?

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menambahkan, pengerjaan intensifikasi lahan seluas 30 ribu hektare terdapat di dua kabupaten, yakni Kapuas dan Pulang Pisau.

Menurutnya intensifikasi lahan itu yakni perbaikan pola budidaya tanaman dimulai dari sarana dan prasarana, bibit, pupuk, serta obat-obatan tanaman yang berkualitas. Tentunya itu semua disesuaikan dengan kultur alam setempat yang cocok dengan lahan rawa.

Kemudian, lanjut dia, adapun komoditas yang akan dibudidayakan yakni padi. Dia pun menargetkan hasil intensifikasi bisa menghasilkan produktivitas padi lebih dari 5 ton per hektare. Tercatat sampai saat ini, area sawah di kawasan itu memiliki produktivitas rendah di bawah 5 ton per hektare.

"Mulai bulan depan kita sudah siap kerjakan. Di mana untuk kesiapan lahan dan mobilisasi alat-alat di sana kurang lebih tinggal ditambah sedikit untuk bisa maksimal," tandas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini