Berambisi Punya Bisnis yang Sukses? Waspadai 3 Ciri Autopilot Palsu

Natasha Oktalia, Jurnalis · Rabu 08 Juli 2020 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 08 320 2243232 berambisi-punya-bisnis-yang-sukses-waspadai-3-ciri-autopilot-palsu-xKG2QBRv8b.jpeg Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Memiliki bisnis autopilot yang bisa berjalan sendiri tanpa harus ada pebisnis yang menggerakkan seluruh sistem adalah impian seluruh pebisnis.

Banyak pebisnis yang mengklaim bahwa bisnis mereka sudah autopilot, bisa ditinggalkan dan bisnis masih tetap berjalan. Namun benarkah klaim tersebut? Apakah bisnisnya sudah benar-benar autopilot atau malah terjebak dalam autopilot palsu?

Bagaimana cara membedakan antara bisnis yang sudah benar-benar autopilot dengan bisnis yang autopilot palsu?

World’s Top Certified Business Coach, Yohanes G. Pauly mengatakan bahwa setidaknya ada 3 ciri bisnis autopilot palsu:

Baca Juga: Jualan Online di Instagram Tak Semata Hanya Posting, Tapi Butuh Interaksi

1. Bisnis hanya bersandar pada satu atau beberapa orang

Bisnis yang indikasinya autopilot palsu ciri pertamanya adalah seluruh sistem berpusat pada satu atau beberapa orang saja. Contohnya jika ada 10 orang team beserta 1 orang manager di bisnis, seluruh sistem berpusat pada si manager saja.

Pebisnis mengira bahwa bisnisnya sudah autopilot karena bisa berjalan tanpa harus ada dirinya di dalamnya karena ada manager yang menjalankan seluruh sistem. Dia menjelaskan syarat sebuah bisnis autopilot adalah pusat sistem di bisnis bukanlah pada orang, namun sebuah panduan dan kesepakatan bersama yang dijalankan oleh semua team.

Sistem di bisnis berlaku dan dijalankan oleh seluruh team sehingga tidak harus digerakkan oleh satu atau beberapa orang agar bisa berjalan. Pebisnis yang bisnisnya autopilot palsu sering kali terjebak pada ciri pertama ini. Ia mengira bahwa bisnis sudah benar-benar autopilot karena tetap berjalan meskipun ditinggalkan. 

Baca Juga: Menguntungkan, Simak Cara Memulai Bisnis Lewat Instagram

2. Bisnis tidak jalan jika orang yang menjalankan sistem tidak masuk

“Apa salahnya jika sistem di bisnis berpusat pada satu atau beberapa orang team saja? Kan yang penting bisnis tetap jalan dan pebisnis bisa jalan-jalan? Tentu saja pemahaman ini salah karena sistem tidak bisa berpusat pada beberapa orang team saja!” ucap Coach Yohanes G. Pauly.

Jika sistem di bisnis hanya berpusat pada satu atau beberapa orang, dan orang tersebut tidak masuk kerja 1 hari saja, bayangkan mimpi buruk yang akan terjadi di bisnis! Bisnis tetap buka? Iya, tapi apakah bisnis berjalan lancar dan seperti biasanya? Tentu saja tidak!

Team terbiasa bersandar ke beberapa orang saja saat bekerja, hanya akan bergerak jika digerakkan dan diberi instruksi. Keseluruhan team tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana alur setiap pekerjaan jika tidak dikontrol oleh orang yang merupakan pusat sistem.

Akibatnya bisnis bisa kacau balau, profit dan omzet menurun, bisnis kehilangan customer, pekerjaan saling tumpah tindih dan masalah-masalah lainnya. Itu baru 1 hari saja, bayangkan jika orang yang merupakan pusat sistem di bisnis memutuskan untuk resign atau pindah ke kompetitor!

3. Tidak ada harmonisasi di bisnis

Bisnis yang autopilot -nya palsu tidak memiliki harmonisasi di bisnis karena ketidakseimbangan tanggungjawab antar team.

Team yang menjadi pusat sistem akan berpikiran bahwa seluruh pekerjaan berpusat padanya padahal dia sebenarnya memiliki posisi dan jabatan yang sama dengan team lain. Rasa sense of belonging tidak tumbuh di seluruh team karena mereka tahu jika ada yang salah atau perlu diperbaiki akan ada team lain yang mengerjakan. Lama-kelamaan akan muncul banyak “virus” di bisnis sehingga team tidak unity untuk mencapai tujuan bisnis.

Dia mengatakan bahwa pebisnis harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam autopilot palsu dan malah menghancurkan bisnis sendiri karena hanya berpusat pada beberapa orang saja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini