Share

Makin Parah, Sri Mulyani Revisi Pertumbuhan Ekonomi Jadi Minus 5,08%

Rina Anggraeni, Jurnalis · Senin 20 Juli 2020 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 20 20 2249331 direvisi-sri-mulyani-sebut-ekonomi-ri-kuartal-ii-minus-5-08-XfrYV7wdD0.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Okezone)

JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 di level minus 5,08%. Padahal sebelumnya pertumbuhan ekonomi di kisaran -0,4% hingga positif 1% pada kuartal II.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kontraksi ekonomi hingga -5,08 di kuartal II-2020 merupakan proyeksi pemerintah yang terbaru.

 Baca juga: Sri Mulyani: Pelonggaran PSBB Buat Usaha Kembali Bangkit

"Proyeksi ini lebih rendah dari yang sebelumnya diperkirakan minus 4,3%. Karena dari sisi arahan ekonomi tentang Covid-19 nampaknya cukup terasa," ujar Menkeu dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (20/7/2020).

Kata dia, turunnya proyeksi ekonomi ini dilihat dari sejumlah indikator, salah satunya aktivitas di pasar keuangan. Hal ini seiring investor masih menunggu perbaikan ekonomi Indonesia. Apalagi di beberapa negara tetangga juga mengalami kontraksi ekonomi yang mendalam.

 Baca juga: Erick Thohir Buka-bukaan Jadi Ketua Pelaksana Satgas Covid-19

"Karena beberapa negara juga sudah prediksi ekonomi di beberapa negara mengalami pemburukan maka dari itu kita proyeksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai minus 5,08% ini cukup dalam sekali," jelasnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali mengoreksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 dari prediksi awal minus 4% namun dikoreksi lebih dalam lagi menjadi minus 4,8%.

 Baca juga: Krisis Ekonomi Akibat Corona Lebih Dahsyat dari 1998, BKF: Musuh Tak Terlihat

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan hal itu disebabkan karena pandemi virus corona diprediksi masih akan berlangsung lama.

"Kalau kita lihat bagaimana kita mengalami masa sulit di kuartal II-2020. Karena kalau perkiraan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu sekitar minus 4% kalau BI itu rangenya bisa 4-4,8%," katanya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini