Dulu Jadi Andalan Ekonomi RI, Kini Konsumsi Rumah Tangga Minus 5,51%

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 05 Agustus 2020 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 05 20 2257247 dulu-jadi-andalan-ekonomi-ri-kini-konsumsi-rumah-tangga-minus-5-51-z1y15JyGNl.jpg Ekonomi RI (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 mencapai minus 5,32% (year on year yoy). Sebelumnya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 2,97% pada kuartal I-2020.

Minusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah diprediksi banyak pihak imbas dampak pandemi virus corona atau Covid-19.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Seluruh Pulau Indonesia Minus, Paling Parah Jawa 

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 tercatat terkontraksi di kisaran -5,32% yoy, terendah sejak kuartal II-1999, dari kuartal sebelumnya tercatat 2,97% yoy.

"Secara umum, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II sesuai ekspektasi. Di mana konsumsi rumah tangga dan investasi juga mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi ke kisaran -5,51% yoy dari kuartal sebelumnya 2,84% yoy," ujar dia kepada Okezone, Rabu (5/8/2020).

Dia menjelaskan beberapa data yang mengindikasikan konsumsi rumah tangga menunjukkan penurunan yang signifikan sepanjang kuartal II-2020 di mana laju pertumbuhan penjualan ritel pada periode April-Juni 2020 tercatat terkontraksi -14,4% yoy dibandingkan laju penjualan ritel pada kuartal II-2019 yang tercatat -1,8% yoy.

"Sementara, indeks kepercayaan konsumen pada periode kuartal II-2020 juga menunjukkan tren yang menurun cukup signifikan sekitar -33,7% yoy pada akhir Juni 2020," ungkap dia.

Baca Juga: Ekonomi RI Kuartal II Minus 5,32%, Terburuk sejak 1999 

Selain itu, lanjut itu, laju pertumbuhan nilai tukar petani pada kuartal II-2020 tercatat 0,15% yoy dari kuartal sebelumnya yang tercatat 1,7%yoy. Pertumbuhan penjualan mobil mengalami kontraksi -70,4% yoy dari kuartal II tahun 2019 yang tercatat -10,7% yoy.

"Selain penjualan mobil yang mengalami pertumbuhan negatif, penjualan motor juga mengalami kontraksi -79,7% yoy dari kuartal II-2019 yang tercatat -0,01%yoy. Selain itu, impor barang konsumsi sepanjang kuartal II-2020 tercatat tumbuh -11,9% yoy dari periode yang sama tahun 2019 yang tercatat -4,7% yoy. Kredit konsumsi pada akhir kuartal II-2020 juga tercatat melambat menjadi 2,3% yoy dari periode yang sama tahun 2019 yang tercatat 7,6% yoy," jelas dia.

Pertumbuhan PMTB pada kuartal II-2020 tercatat mengalami kontraksi di kisaran -8,61% yoy dari kuartal II tahun 2019 yang tercatat 4,55%, di mana investasi bangunan dan non-bangunan cenderung melambat. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan penjualan semen yang terkontraksi -20,4% yoy pada kuartal II tahun 2020, dari kuartal II tahun 2019 yang tercatat -7,1%yoy.

"Kontraksi penjualan semen mengindikasikan investasi bangunan sepanjang periode April-Juni 2020 mengalami penurunan. Selain itu, investasi non-bangunan juga melambat terindikasi dari impor barang modal sepanjang kuartal II-2020 tercatat terkontraksi -20,1% yoy dari kuartal II tahun 2019 yang tercatat -8,1% yoy," kata dia.

Dia menambahkan, penjualan alat berat pada kuartal II-2020 pun juga tercatat terkontraksi -67,9%yoy dibandingkan periode yang sama tahun yang lalu yang tercatat -40,1% yoy.

"Konsumsi pemerintah melambat sekitar -6,90% yoy dari kuartal II-2019 yang tercatat 8,2% yoy seiring dengan realisasi laju pertumbuhan belanja K/L yang tercatat melambat menjadi -2,9% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 4,9% yoy," tandas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini