Ancaman Resesi, Benarkah Harus Pegang Uang Tunai Banyak?

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 07 Agustus 2020 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 320 2258339 ancaman-resesi-benarkah-harus-pegang-uang-tunai-banyak-Nn2K7piKFv.jpeg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Istilah cash is king dalam kondisi ketidakpastian ini memang ada benarnya. Apalagi saat ini ekonomi Indonesia tengah dihadapkan oleh ancaman resesi akibat pandemi virus corona.

Ancaman resesi muncul karena pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2020 minus 5,3% secara tahunan (year on year/yoy). Apabila di kuartal III-2020 ekonomi minus lagi, maka Indonesia akan mengalami resesi.

Baca Juga: Indonesia Diambang Resesi, Siapkan Dana Darurat hingga Asuransi

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan, pada saat situasi krisis seperti saat ini memang uang cash menjadi hal yang sangat hal yang penting. Namun bukan berarti semua kebutuhan bisa dipenuhi oleh uang cash.

"Sebenarnya menjaga likuiditas itu menjaga nilai kecukupan harta likuid tunai kita harta yang bisa dicairkan berupa uang," ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (6/8/2020).

Menurut Mike, jika hanya mengandalkan uang cash yang dalam hal ini berupa dana darurat tidak akan cukup untuk mengcover semua kebutuhan. Mengingat kebutuhan di saat pandemi ini sangat besar.

Baca Juga: Ekonomi Lagi Sulit, Pikir-Pikir Dulu Sebelum Pinjaman Online

"Benar cash is king dalam kondisi seperti ini. Tapi kan tidak semuanya kalau kita hanya mengandalkan cash saja kebutuhan yang namanya emergency itu tidak bisa ditebak berapanya karena itu jika tidak bisa kalau kita hanya mengandalkan cash saja kebutuhan akan cash itu akan sangat besar," jelasnya.

Oleh karena itu lanjut Mike, agar seimbang maka harus ada beberapa dana lainnya yang perlu disiapkan. Misalnya adalah dana untuk dana darurat sebagai uang cash.

Lalu ada juga dana untuk investasi, namun harus yang sifatnya konservatif atau aman. Lalu yang paling ketiga adalah masalah asuransi minimal untuk mengcover kebutuhan yang sifatnya untuk kesehatan.

"Yang harus kita sediakan tadi ya dana darurat tadi gabungan dengan investasi kita. Kalau mengandalkan itu akan sangat besar. Oleh karena itu disiasati dengan adanya asuransi," kata Mike.

Menurut Mike, nantinya likuiditas ini lah yang akan digunakan untuk menghadapi situasi tersulit seperti resesi ekonomi karena pandemi. Sehingga pada saat situasi seburuk apapun sudah bisa tercover seluruhnya.

Sebagai salah satu contohnya adalah ketika terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau usahanya bangkrut tidak perlu pusing-pusing. Karena sudah ada dana darurat dan investasi tadi yang siap dicairkan ketika membutuhkan biaya hidup.

"Likuiditas itu dalam konteks kalau situasi terburuk terjadi. Kita mesti survive gitu. Survivenya paling bagus memang kalau kita punya uang tunainya. Cuma kondisi survival ini tidak ada batasnya. Bisa makin panjang, bisa pendek tapi besar banget daruratnya. Makanya tergantung situasi daruratnya seperti apa," kata Mike.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini