Pengusaha Minta Menhub Kampanyekan Naik Bus Aman dan Nyaman

Ichsan Amin, Jurnalis · Minggu 16 Agustus 2020 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 16 320 2263025 pengusaha-minta-menhub-kampanyekan-naik-bus-aman-dan-nyaman-MOa00rnw47.jpg Bus AKAP Minta Pemerintah Kampanye Naik Bus Aman dan Nyaman. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Sektor transportasi darat menjadi salah satu yang paling terdampak pandemi virus corona. Meskipun begitu, angkutan darat seperti bus seperti dianak tirikan oleh pemerintah dibandingkan angkutan lainya seperti pesawat.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus menjadi salah satu darah untuk sektor transportasi darat. Oleh karena itu, bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP) pariwisata butuh dikampanyekan untuk kembali bergairah.

Baca Juga: Terpukul Pandemi Covid-19, Penumpang Bus AKAP Baru 30%

"Kami juga butuh dikampanyekan bus aman dan nyaman di masa new normal. Justru urat nadi itu ada di jalan raya di mana angkutan bus menjadi darahnya," ujarnya dalam sebuah diskusi, Minggu (16/8/2020).

Menurutnya, angkutan bus juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam operasinya. Namun sayangnya di lapangan bus seringkali menerima tindakan diskriminatif.

Sebagai salah satu contohnya, penumpang bus AKAP dengan jurusan Jakarta-Yogakarta sudah tiba di daerah Wates malah dilarang masuk dan diperiksa macam-macam. Padahal sebelumnya tidak ada pemeriksaan apapun yang dilakukan petugas.

Baca Juga: Operasional Angkutan Barang Dibatasi Selama HUT RI

Justru sebaliknya, banyak kendaraan pribadi bisa masuk kemana-mana tanpa ada pemeriksaan apapun. Hal ini lah yang membuat penumpang bus enggan naik kendaraan ini dan memilih menggunanan transportasi pribadi ataupun angktan ilegal dengan plat hitam

"Pemerintah harus tegas. Jangan main petak umpet. Kalau ada kasus dibilang kewenangan daerahlah, Kemendagri bilang tidak, polisi sebagai penegak hukum harus bertindak tegas dan adil," pungkas Kurnia.

Sementara Ketua Umum Perkumpulan Transportasi Wisata Indonesia (PTWI) Yuli Sayuti mengatakan, dari semua operator bus yang terdampak, operator bus pariwisata adalah yang paling terpuruk.

Menurut dia, untuk operator bus AKAP masih bisa beroperasi meski operasional dibawah 50%.

“Tapi kami di Bus Pariwisata ini sangat terpengaruh oleh dua hal. Pertama stigma masyarakat, dan kedua ketegasan pemerintah daerah mengenai kepastian terbukanya dan beroperasinya objek wisata di daerah,” ujarnya.

Meski pemerintah sudah memberikan stimulus pada angkutan Transportasi, namun masih dibutuhkan perhatian yang lebih. “Kita sudah dapat keringanan enam bulan untuk cicilan, meski belum semua. Tapi ini masih perlu ditambah mengingat sektor ini juga punya ribuan tenaga kerja lepas,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini