Ekonomi Minus 12,2% dan Thailand Masuk Jurang Resesi, Ini Penyebabnya

Selasa 18 Agustus 2020 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 18 20 2263862 ekonomi-minus-12-2-dan-thailand-masuk-jurang-resesi-ini-penyebabnya-1KbGiQaGtB.jpg Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Ekonomi Thailand terkontraksi 12,2% pada kuartal kedua tahun ini, penurunan paling tajam sejak krisis finansial melanda Asia pada akhir 1990-an. Fakta statistik ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang memburuk menyusul keputusan pemerintah untuk menutup negara itu dari perjalanan internasional karena wabah virus corona.

Laporan yang dirilis Dewan Nasional Ekonomi dan Pembangunan Sosial menunjukkan, investasi, belanja konsumen dan perdagangan terkontraksi secara signifikan. Produk pertanian, yang juga dipengaruhi musim kemarau, menyusut tiga persen, sementara industri manufaktur menurun 14,4%. Sebagai perbandingan, pada kuartal pertama, ekonomi negara itu hanya menyusut 2%.

Situasi ekonomi yang memburuk diperparah oleh gelombang kerusuhan mahasiswa. Pada Minggu (16/8), para demonstran antipemerintah menggelar aksi protes yang menuntut diselenggarakannya pemilu baru, perubahan konstitusi dan pengakhiran intimidasi terhadap para pengecam pemerintah.

Baca Juga: Apindo Proyeksi Ekonomi Kuartal III Minus 2%, Indonesia Resesi? 

Aksi protes itu sendiri tidak secara terang-terangan mempersoalkan ekonomi, namun menegaskan ketidaksenangan publik terhadap cara pemerintah yang didominasi militer dalam menanggulangi krisis, sehingga mengakibatkan banyak orang mengalami kesulitan ekonomi. Demikian seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8/2020).

Pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan ketat untuk mengendalikan wabah, termasuk memberlakukan jam malam dan larangan penjualan alkohol. Kebijakan ini memang terbukti berhasil mengendalikan wabah, namun menimbulkan kerugian ekonomi yang parah. Banyak bisnis pariwisata gulung tikar dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Perekonomian Thailand sangat mengandalkan bisnis pariwisata. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, pandemi virus corona telah membuat bisnis ini menyusut 38 persen.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini