Warning! Impor Tekstil Ilegal Hantui Indonesia, Ini Bahayanya

Aditya Pratama, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 320 2264377 warning-impor-tekstil-ilegal-hantui-indonesia-ini-bahayanya-DsMhX8zCkt.jpg Batik (Foto: Okezone)

JAKARTA - Impor tekstil ilegal masih terus menghantui para pelaku industri tekstil di Tanah Air. Padahal, pasarm dalam negeri memiliki potensi yang begitu besar pada industri tersebut.

Baca Juga: Impor Tekstil Ilegal Bisa Buat Negara Rugi Rp7 Triliun 

Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Rizal T Rakhman engatakan, dengan begitu besarnya potensi tekstil di pasar dalam negeri, seharusnya bisa menjadi sumber energi bagi pasar dalam negeri.

"Seandainya pasar dalam negeri diisi oleh produk-produk lokal makanya saya yakin percepatan industri ini makin lebih gesit, lebih cepat tumbuh, cepat bangkit lagi. Ini juga diperlukan proteksi dari pemerintah sebagai regulator," ujar Rizal dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (18/8/2020).

Baca Juga: Resesi di Depan Mata, Ekonomi Indonesia Lampu Kuning 

Rizal menambahkan, akan berbahaya jika industri tekstil dalam negeri tidak dilakukan proteksi sebaik mungkin. Ditambah, importasi saat ini seperti pakaian jadi pun tidak diberlakukan kuota dan pembebasan bea masuk.

"Jadi, memang begitu bebas bisa masuk ke pasar dalam negeri, ini salah satu yang mengganggu kinerja produsen dalam negeri," kata dia.

Dari data yang dimiliki Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyebutkan bahwa terdapat perbedaan klaim antara ekspor China ke Indonesia dengan klaim impor Indonesia terhadap produk China, di mana rata-rata tiap tahun dari 2016 sampai 2019 itu selisihnya bisa mencapai 150.000 ton per tahun, bahkan di tahun 2019 tercatat selisih menxapai 130.000 ton dan jika dinominalkan sekitar Rp15 triliun.

"Artinya, kalau nominal sebesar ini adalah barang ini diproduksi di dalam negeri, itu bisa memborong produsen dalam negeri sangat bagus dan angka itu bisa memperkerjakan sekian banyak karyawan, menggerakkan sekian banyak pabrik, menambah devisa negara sekian banyak," ucapnya.

"Tentunya ini memerlukan proteksi dari pemerintah agar pasar dalam negeri menjadi sumber trigger utama perkembangan atau percepatan industri tekstil nasional," sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini