Kepercayaan Konsumen Membaik tapi Masih di Level Pesimis

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 25 Agustus 2020 13:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 25 20 2267115 kepercayaan-konsumen-membaik-tapi-masih-di-level-pesimis-wZJ4i8Y7UJ.jpg Indeks Keyakinan Konsumen Menunjukan Tren Membaik. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (B) mencatat survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2020 menunjukkan tren membaik. Survei IKK sebesar 86,2 atau meningkat dari 83,8 dari bulan sebelumnya.

Meski demikian, angka tersebut masih berada di level pesimis. "IKK tumbuh positif tapi masih di level pesimis. Kenapa? Karena IKK itu memandang ekonomi ke depan," ujar Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta, Selasa (25/8/2020).

Baca Juga: Meski Pesimis, Masyarakat RI Yakin Kondisi Ekonomi Membaik

Dia menilai bahwa indikator realisasi kemarin harus dibedakan dengan yang masih prediktif atau bersifat ekspektasi ke depan.

"IKK ini umumnya adalah ekspektasi terhadap kondisi ke depan, bisa dalam jangka waktu tiga bulan atau enam bulan," tambah Faisal.

Dia menjelaskan, ekonomi di kuartal II negatif dan pengangguran meningkat, lalu kuartal III negatif tapi membaik. Tapi jika konsumen melihat kondisi membaik ke depan, IKK akan tetap positif terlepas kondisi saat ini.

Baca Juga: Sri Mulyani: Episode Virus Corona Belum Selesai

"Serapan atau realisasi anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga sangat mempengaruhi volatilitas IKK. Karena cepat lambatnya realisasi anggaran ini dirasakan oleh masyarakat di lapangan, sehingga realisasi ini menunjukkan apa yang mereka rasakan," jelas Faisal.

Jika secara persentase realisasi secara keseluruhan hingga 12 Agustus 2020 masih 21%, maka masyarakat juga sebetulnya melihat realisasi di level yang sama.

"Melihat skema-skema yang ada di PEN, realisasi alokasi penanggulangan kesehatan itu masih sangat kecil di 8,1%, tren dari penambahan kasus positif Covid-19 tiap harinya juga akan berpengaruh terhadap optimisme ke depan meski sudah ada relaksasi," ucapnya.

Dia mengatakan, hal ini berkaitan dengan sustainability, seberapa lama konsumsi akan membaik di tengah kondisi saat ini. Ini juga berkaitan dengan penanggulangan wabah, dimana Indonesia belum melihat titik puncaknya di tahun ini, berbeda dengan negara-negara lain.

"Meski kasus disana banyak, mereka umumnya sudah melewati puncaknya, setidaknya ada satu tahap yang mereka sudah lewati. Perlu diingat bahwa titik kritis bukanlah hanya di kuartal III dan IV, tapi di kuartal-kuartal selanjutnya. Yang perlu diantisipasi adalah bagaimana level konsumsi jangka panjang setelah itu belum kembali ke posisi sebelum wabah," pungkas Faisal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini