Pengusaha Pasrah, Indonesia Sulit Hindari Resesi

Fadel Prayoga, Jurnalis · Rabu 26 Agustus 2020 10:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 26 20 2267561 pengusaha-pasrah-indonesia-sulit-hindari-resesi-NogWrYul8i.jpeg Ekonomi RI Diprediksi Alami Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pandemi virus corona masih melanda Indonesia hingga diprediksi membuat pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal III-2020. Indonesia pun berpotensi menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi karena dalam dua kuartal ekonominya minus.

Menurut Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, bila dibandingkan kuartal II yang terkontraksi 5,32%, kuartal-III ada peluang perbaikan. Tapi untuk terhindar dalam jurang resesi itu sulit.

Baca Juga: Banyak Negara Resesi, Indonesia Harus Ngapain agar Selamat?

"Saat ini kelihatannya sulit untuk menghindari resesi karena di kuartal-III secara realistis ekonomi akan tetap tumbuh negatif. Walaupun akan ada perbaikan yang cukup signifikan dari kuartal-II," kata Shinta saat dihubungi, Rabu (26/8/2020).

Dia menjelaskan, pemicu resesi karena situasi terkini para pelaku usaha merasa tingkat konsumsi masyarakat belum ada peningkatan yang signifikan. Selain itu, stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan penyerapan anggarannya masih rendah.

Baca Juga: Bansos Sembako dari Komoditas Daerah Bisa Gerakkan Ekonomi

"Ini bukan hal yang mudah karena hingga tengah kuartal-III ini pun pelaku usaha merasakan peningkatan konsumsi tidak cukup signifikan, stimulus-stimulus belum didistribusikan dengan maksimal dan realisasi belanja pemerintah juga masih rendah," ujarnya.

Tak hanya itu, penanganan pandemi yang terkesan belum ada keseriusan dari pemerintah turut membuat geliat dunia usaha nasional bergerak masih lamban. Sehingga, menyebabkan masyarakat ragu untuk meningkatkan konsumsi dan berinvestasi.

"Apalagi perkembangan pengendalian covid di sisi kesehatan juga kurang baik sehingga confidence pasar untuk melakukan konsumsi dan investasi sulit meningkat," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memprediksi kuartal III-2020 berada di kisran 0% hingga minus 2%. Hal ini merupakan imbas pandemi virus Covid-19.

Dirinya mengatakan, adapun resiko tekanan pada pasar keuangan belum pulih. serta proyeksi pada tahun 2020 bisa minus 1,1% hingga 0%.

"Kita memang melihat di kuartal III downside risk tetap menunjukkan risiko yang nyata, kuartal III outlook-nya antara 0% hingga negatif 2%," kata Sri Mulyani, kemarin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini