OJK Buka-bukaan Kondisi Industri Jasa Keuangan di Tengah Covid-19

Hafid Fuad, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2020 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 27 320 2268533 ojk-buka-bukaan-kondisi-industri-jasa-keuangan-di-tengah-covid-19-nGNwCqVm9J.jpg OJK soal Industri Jasa Keuangan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat performa positif untuk Industri Jasa Keuangan (IJK) hingga Agustus 2020. Hal ini berkat otimalisasi berbagai kebijakan yang telah dilakukan.

Ketua DK OJK Wimboh Santoso mengatakan, pemulihan ekonomi nasional bisa dilakukan melalui penguatan peran sektor jasa keuangan (sisi suplai) yang mendorong stimulus. Ini diyakini menggenjot kembali roda perekonomian (permintaan) dengan tetap disiplin memperhatikan protokol kesehatan.

Pengawasan terintegrasi yang dilakukan OJK memperkuat pengawasan terhadap konglomerasi keuangan yang menawarkan produk dan jasa keuangan yang bersifat hybrid. Ini berarti gabungan produk perbankan, asuransi dan investasi di pasar modal sehingga menjaga kestabilan sistem keuangan.

"Pengawasan terintegrasi dapat mendeteksi lebih dini potensi risiko pada stabilitas sektor jasa keuangan dan mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) secara menyeluruh," ujar Wimboh hari ini di Jakarta, Kamis (27/8/2020).

Baca Juga: Bos OJK: Jangan Sebarkan Hoaks, Ekonomi RI saat Ini Beda dengan Krisis 1998

Dia juga mengatakan pihaknya mendorong digitalisasi Sektor Jasa Keuangan dengan menyiapkan ekosistem informasi yang handal untuk mempercepat layanan kepada masyarakat. "OJK juga melakukan pengawasan berbasis teknologi melalui berbagai aplikasi yang telah dibangun OJK. Seperti Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen," ujarnya.

Kebijakan restrukturisasi kredit berdasarkan POJK 11/2020 dan POJK 14/2020 disebutnya berperan besar menekan tingkat NPL dan meningkatkan permodalan Bank.

Sejak diluncurkan 16 Maret 2020 hingga 10 Agustus, program restrukturisasi kredit telah mencapai Rp837,64 triliun dengan 7,18 juta debitur. Jumlah tersebut terbagi untuk sektor UMKM yang mencapai Rp353,17 triliun dengan 5,73 juta debitur. "Sedangkan untuk non UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai Rp484,47 triliun dengan jumlah debitur 1,44 juta nasabah," ujarnya.

Sementara untuk perusahaan pembiayaan, hingga 26 Agustus 2020, OJK mencatat sebanyak 182 perusahaan pembiayaan sudah menjalankan restrukturisasi pinjaman tersebut. Realisasinya sudah disetujui sebanyak 4,52 juta debitur dengan total nilai mencapai Rp 176,33 triliun.

OJK juga mengeluarkan meringankan pinjaman usaha mikro dalam Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Nilai realisasinya mencapai Rp20,79 miliar dari 32 LKM. Selain itu, keringanan juga diberikan untuk pinjaman di Bank Wakaf Mikro (BWM) dengan nilai Rp1,73 miliar untuk 13 BWM.

"Kami berupaya mempercepat bergeraknya aktivitas dunia usaha dengan menyiapkan berbagai kebijakan yang dibutuhkan guna mengakselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional," ujarnya.

Data dari kondisi pasar saham tanggal 26 Agustus ditutup menguat di level 5.340,33. Sejak 8 Juli 2020, IHSG konsisten di atas level 5.000. Di bulan Juli kinerja IHSG naik 4,98% mtm, dan sampai dengan 26 Agustus naik 3,70% secara mtd.

Berikutnya intermediasi jasa keuangan, mulai bergerak mengikuti aktivitas ekonomi pasca pelonggaran PSBB. Ini mendorong pertumbuhan kredit perbankan sedikit meningkat menjadi 1,53% secara yoy. Namun demikian, pertumbuhan piutang pembiayaan masih memperlihatkan kontraksi yang lebih dalam.

Secara kualitas risiko lembaga jasa keuangan masih terjaga dalam level aman. Rasio NPL gross tercatat sebesar 3,22% sementara NPL net tercatat 1,12% dan Rasio NPF sebesar 5,5%. Hal ini dikarenakan sektor jasa keuangan telah mengantisipasi risiko dengan meningkatkan pencadangan yang dibentuk dari permodalan. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) perbankan tercatat sebesar 23,10% dan rasio permodalan (Risk-Based Capital) untuk industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing sebesar 502% dan 321%, jauh diatas ketentuan yang ditetapkan.

Alat likuid yang dimiliki perbankan terus mengalami peningkatan yang ditandai dengan pertumbuhan DPK. Per 14 Agustus 2020, Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK terpantau pada level 128,01% dan 27,15%, jauh di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

OJK juga terus mendorong konsolidasi perbankan guna memperkuat daya saing industri perbankan dalam menghadapi pandemi Covid 19. Hasilnya terdapat beberapa bank yang berpindah kelompok bank akibat merger atau tambahan modal, OJK mencatat 4 bank berpindah dari BUKU I ke BUKU II, dan 2 Bank berpindah dari BUKU III ke BUKU IV.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini