Usai Sri Mulyani, Menko Airlangga Ramal Ekonomi RI Minus 1,1% di Kuartal IV

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 14:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 320 2282464 usai-sri-mulyani-menko-airlangga-ramal-ekonomi-ri-minus-1-1-di-kuartal-iv-Rt3NB1Z7mj.jpg Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto; Setkab)

JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tetap tumbuh negatif hingga kuartal IV-2020. Menurut kemungkinan terburuknya, pertumbuhan ekonomi nasional 2020 bisa mencapai minus 1%.

Artinya, dalam kuartal III dan IV, ekonomi Indonesia akan mengalami negatif. Hal ini seiring, kontraksi perekonomian yang terjadi di setiap negara selama masa pandemi Covid-19 saat ini.

 Baca juga: Bambang Brodjonegoro: Jangan Harap Ekonomi Kita Segera Kembali

"Di kuartal kedua kita ketahui kita terkontraksi minus 5,32% dan juga dibandingkan dengan berbagai negara relatif kontraksi kita tidak terlalu dalam," kata dia dalam acara penyaluran KUR bagi UMKM mitra platform digital, Rabu (23/9/2020).

 

Menurut dia, pemerintah telah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional bisa tetap tumbuh minus hingga kuartal IV-2020, yakni pada kisaran -1,1% sampai 0,2% .

"Pemerintah melihat tren di kuartal kedua ketiga tentunya akan menentukan kuartal IV dan range daripada pertumbuhan yang diperkirakan di kuartal III mulai dari minus 3% sampai minus 1%," jelasnya.

 Baca juga: Investor Waspadai Prediksi Sri Mulyani soal Resesi Ekonomi

Namun, Airlangga berharap pertumbuhan ekonomi dapat mulai berbalik arah pada 2021. "Berbagai lembaga sudah melihat, bahwa perekonomian Indonesia akan maju di lajur positif 4,5%-5,5% di 2021," sambungnya.

Kata dia, keyakinan itu dilontarkannya lantaran penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan mulai menunjukan tren positif. Seperti pada rasio tingkat kesembuhan pasien.

"Tentunya kita melihat ada hal yang positif juga, data menunjukan bahwa tingkat kesembuhan meningkat di Indonesia, 72,7%. Ini mendekati rata-rata global di 73%," pungkasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini