Cerita Pembatik Asal Solo, Mulai Kejayaan hingga Terhantam Corona

Bramantyo, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 455 2287303 cerita-pembatik-asal-solo-mulai-kejayaan-hingga-terhantam-corona-rQxnMhskx8.jpg Batik (Foto: Bram/Okezone)

Diakuinya, keputusannya memulai membuka usaha batik, saat itu hanya sekedar ikut-ikutan teman-temannya yang lebih memilik membuka usaha batik, dibandingkan mencari pekerjaan.

"Saat itu banyak teman-teman main saya yang membuka usaha batik. Katannya waktu itu, dari pada cari kerjaan, mending buka batik," katannya sambil tertawa.

Karena pengengetahuan batik saat itu masih minim, tentu saja, batik yang dirintisnya saat itu berjalan di tempat.

Baru, pada tahun 1992, generasi muda batik membuat terobosan yang cukup membuat generasi sebelum dirinya marah-marah.Karena generasi muda batik, membuat sebuah batik yang dianggap merusak pakem batik. Yaitu batik kontemporer.

"Batik kontemporer itu modifikasi motif batik yang telah ada. Seperti motif parang, Klithik atau improvisasi dari motif Sekar jagad. Dari motif-motif itulah digabung jadi batik kontemporer lebih fleksibel mengikuti keinginan masyarakat," terangnya.

Saat mengganti motif batik menjadi kontemporer itulah, Margono mengakui angka penjualannya melonjak jauh. Meskipun kala itu keuntungannya hanya Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per potong, sekarang keuntungannya sudah berlipat ganda.

Hingga akhirnya dirinya bertemu dengan pengusaha menengah asal Amerika. Dari perkenalan itulah, motif batik kontemporer yang selama ini ditekuninya berubah drastis.

"Rekan bisnis saya asal Amerika itu bilang, kalau mau masuk pasar Amerika,corak batik saya itu harus diubah. Karena saran itulah, saya berpikir, apa yang cocok untuk motif batik saya," terangnya.

Mulailah Margono mengutak-atik motif batiknya. Hampir satu bulan lebih dirinya terfokus pada pencarian batik. Keuntungan menggiurkan masuk pangsa pasar Amerika yang membuat dirinya termotivasi.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini