Beda Krisis 1998-2008 dan 2020, Efek Corona Lebih Dahsyat

Kunthi Fahmar Shandy, Jurnalis · Kamis 22 Oktober 2020 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 22 320 2297836 beda-krisis-1998-2008-dan-2020-efek-corona-lebih-dahsyat-51DP3EgtTK.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Hampir semua negara di dunia akan mengalami kontraksi. Rentang proyeksi dari pertumbuhan ekonomi global berada di kisaran -5% sampai -4% di tahun 2020, terburuk dalam 80 tahun terakhir.

Diperkirakan ekonomi global hanya akan rebound secara parsial ke kisaran 3% sampai 4% di 2021. "Namun, proyeksi pertumbuhan 2021 diwarnai ketidakpastian yang tinggi karena tahun depan nampaknya masih akan disertai flukutuasi bisnis yang tajam, dan pemulihan yang tidak merata antar negara, ujar Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean saat dihubungi di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Baca Juga: Indonesia Resmi Resesi, Luhut Bocorkan Ekonomi Kuartal III Minus 2,9%

Prospek lambatnya pemulihan ekonomi global, menurut dia terjadi karena krisis kali ini memiliki perbedaan dengan dua krisis sebelumnya paling tidak dalam tiga aspek. Pertama, ada tidaknya faktor penyeimbang pertumbuhan global. 

Di tahun 1998 ketika terjadi krisis Asia dan tahun 2008 krisis di wilayah trans Atlantik, namun masih ada wilayah dunia yang saat itu tidak terkena krisis sehingga masih bisa berperan sebagai penyeimbang pertumbuhan global.

"Tapi di tahun 2020 dunia tidak memiliki elemen penyeimbang karena seluruh dunia tanpa terkecuali, terkena krisis," sebut dia. 

Adrian memaparkan, di tahun 1998 dan 2008 krisis yang terjadi lebih bersifat finansial dan ekonomi, dan bias kearah kejutan permintaan.

Tetapi pada tahun 2020, krisis yang terjadi dipicu oleh faktor kesehatan yang kemudian menyebabkan terhentinya mobilitas manusia dan goncangan ekonomi sebagai akibat kejutan di sisi penawaran dan permintaan secara simultan.

Bila dalam krisis tahun 1998 dan 2008 negative spillovers yang bersifat wilayah terbantu oleh penyelesaian yang berkerangka regional, maka di 2020 negative spillovers yang bersifat global belum memiliki solusi berkerangka global.

"Proses pengembangan vaksin yang tidak diwarnai oleh kerjasama global secara erat adalah contohnya. Dengan perbedaan ini, sulit untuk membayangkan sebuah skenario pemulihan ekonomi yang akan berlangsung secara cepat," sebut dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini