Bidik Sektor Perikanan RI, Bank Dunia Kucurkan Rp14,7 Miliar

Kunthi Fahmar Shandy, Jurnalis · Jum'at 30 Oktober 2020 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 30 320 2301577 bidik-sektor-perikanan-ri-bank-dunia-kucurkan-rp14-7-miliar-JQoQTcaCFp.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTABank Dunia bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Coastal Fisheries Initiative Challenge Fund. Dengan pembiayaan sebesar USD1 juta (setara Rp14,7 miliar) dari Global Environment Facility. Challenge Fund ini akan mendukung investasi berkelanjutan di sektor perikanan pesisir Indonesia.

Practice Manager untuk Environment, Natural Resources and Blue Economy di Bank Dunia Ann Jeannette Glauber mengatakan tujuan dari Challenge Fund adalah untuk meningkatkan nilai ekonomi dan sosial dari sektor ini serta mendukung kesejahteraan dan mata pencaharian orang-orang yang bergantung pada perikanan pesisir.

Baca Juga: Bank Dunia Batasi Karyawan yang Bekerja di Jakarta

"Fokus utama dari prakarsa ini adalah pada perikanan kakap dan tuna di laut Arafura dan Sawu serta perairan kepulauan di sekitarnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2020).

Pekerjaan ini dipandu oleh komite penasihat yang terdiri dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Covid-19 Menggerus Ekonomi Global USD8,8 Triliun

Prakarsa baru dari Indonesia Sustainable Oceans Program (ISOP) Bank Dunia ini akan bekerja dengan calon penanam modal dalam mengembangkan rencana bisnis untuk sektor perikanan yang berkelanjutan, mempromosikan peluang investasi sektor swasta dalam sektor perikanan berkelanjutan, berbagi pembelajaran dari keberhasilan investasi di masa lalu, dan membangun kemitraan antara komunitas nelayan dan bisnis yang mengutamakan kelestarian.

Seperti diketahui Indonesia adalah penghasil perikanan terbesar kedua di dunia. Sektor ini menghasilkan sekitar USD4,1 miliar pendapatan ekspor tahunan, menunjang lebih dari 7 juta pekerjaan, dan menyediakan lebih dari 50% protein hewani bagi Indonesia.

 

Namun, industri ini menghadapi ketidakpastian, dengan sebagian stok perikanan pesisir berisiko terhadap penangkapan berlebih dan pengelolaan, termasuk adanya keterbatasan rencana pengelolaan yang efektif, data dan penelitian yang tidak memadai, dan terbatasnya peluang untuk melakukan investasi pada penangkapan ikan yang bertanggung jawab secara sosial maupun lingkungan.

Makanan laut yang disediakan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial maupun lingkungan tidak hanya mendukung keberadaan populasi ikan dan habitat laut yang sehat, tetapi juga dianggap bernilai lebih tinggi di pasar internasional. Sehingga bisa meningkatkan pendapatan bagi masyarakat pesisir yang terlibat dalam industri ini, serta mendukung usaha yang menguntungkan dalam jangka panjang.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini