Pria lulusan Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu membeberkan, kayu jati memiliki karakteristik kuat dan kokoh. Untuk itu, Ghofur kerap berburu menyeberangi sungai dan mendaki bukit guna mencari bahan baku kerajinannya. Selain itu, juga dibentuk tim di beberapa daerah untuk menggali akar jati.
Tak jarang, akar jati yang memenuhi sebagian besar workshop-nya belum bisa dipakai sepenuhnya. Meski telah mendapat edukasi pemilihan bahan baku, namun masih ditemukan akar jati yang dinilai kurang memenuhi syarat. Meski demikian, Ghofur tetap membelinya dari warga sebagai bentuk penghargaan telah keluar-masuk hutan.
“Kalaupun ada sisa itu pastilah kita membelinya, agar mereka juga tidak merasa dirugikan karena sudah jauh-jauh puluhan kilometer masuk ke hutan, dan jika kita tidak membelinya maka mereka dirugikan. Jadi kita harus win-win solution. Kita berusaha untuk mencari lahan-lahan baru dan grup-grup baru untuk kita didik kita latih mencari bahan dengan baik dan benar,” jelasnya.
Dia selalu menerapkan kerja disiplin dan perencanaan yang baik untuk menciptakan sebuah karya. Oleh karenanya, sebelum menyusun akar jati menjadi produk mesti melalui gambar kerja. Tak jarang, karya seni direvisi beberapa kali bila dinilai kurang realis.
“Hasil produksi kami sebagian besar adalah berupa patung-patung dari akar kayu jati, yang kita susun dengan baik dengan seni, dengan planning yang baik, desain gambar dan ukuran yang baik, saya sendiri kerjakan dan setiap hari kita mengecek kualitas mereka atau hasil kerja mereka, dan kita koreksi seperlunya,” ungkap dia.
“Khususnya untuk yang tipe struktur mozaik struktur itu banyak barang-barang produk kami dari potongan-potongan kayu jati atau tatal kayu jati yang kita susun sedemikian rupa sehingga menjadikan barang ini mempunyai nilai yang lebih baik daripada seonggok kayu yang tidak tergunakan,” terangnya.