Perlukah Mengosongkan Saldo di Rekening saat Indonesia Resesi?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 05 November 2020 12:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 05 622 2304604 perlukah-mengosongkan-saldo-di-rekening-saat-indonesia-resesi-VUZoeUsB7M.jpg Tips Mengatur Keuangan Saat Indonesia Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA Cash is the king menjadi istilah yang kembali ramai dibicarakan saat Indonesia mengalami resesi. Misalnya, banyak orang menahan diri berbelanja barang premium, melakukan renovasi rumah, atau membeli properti, karena merasa lebih aman memegang uang tunai.

Lalu, apakah dengan menerapkan istilah cash is the king membuat setiap orang mengosongkan saldo di rekeningnya saat Indonesia memasuki resesi?

Baca Juga: Indonesia Resesi, Saatnya Cash is The King

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Andy Nugroho menyebut, meski memegang uang tunai merupakan pilihan yang aman saat negara sedang dilanda gejolak perekonomian ini. Namun, itu tak berarti lantas mengosongkan saldo yang ada di dalam rekening bank.

“Tidak perlu mengosongkan saldo di bank, karena bisa dibilang lembaga keuangan kita masih kuat,” kata Andy kepada Okezone, Kamis (5/11/2020).

Baca Juga: Apa yang Harus Dilakukan saat Indonesia Resesi?

Terkait jumlah ideal uang tunai yang dipegang seseorang, itu tergantung dari kondisi keuangan setiap keluarga atau pribadi masing-masing. “Jadi kalau bicara itu, kembali lagi ke gaya hidup masing-masing dan penghasilannya. Dan kalaupun penghasilannya tidak mencukupi untuk gaya hidup, berarti gaya hidupnya yang harus diturunkan,” ujarnya.

Dia menambahkan, di tengah gejolak ekonomi saat ini sebaiknya melakukan investasi yang risikonya rendah dan mudah dicairkan.

“Kita jadi orientasinya investasi ke produk2 yang risiko rendah dan gampang dicairkan lagi atau bentuk obligasi retail, deposito dan logam mulia. Saat ini cash is the king sebaiknya seperti itu,” kata dia.

Sebagai informasi, Indonesia resmi terperosok ke jurang resesi pada kuartal III-2020. Hal ini setelah dua kuartal berturut-turut perekonomian Tanah Air mengalami minus. Berdasarkan data BPS pada kuartal II terkontraksi 5,32%, kini kuartal III menurun menjadi minus 3,49%.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini