Neraca Dagang Surplus, RI Harus Manfaatkan Redanya Tensi AS-China

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 17 November 2020 16:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 17 320 2311122 neraca-dagang-surplus-ri-harus-manfaatkan-redanya-tensi-as-china-0t1UrBsCJE.jpg Perang Dagang (Shutterstock)

JAKARTA - Kinerja Perdagangan Indonesia dinilai masih kurang berkualitas dan masih belum maksimal. Meskipun selama enam kali kinerja neraca perdagangan Indoneska mencatatkan surplus.

Lantas langkah seperti apa yang perlu dilakukan untuk membuat ekspor impor Indonesia menjadi berkualitas? Pengamat Ekonomi INDEF Bhima Yudhistira mengatakan hal yang perlu dilakukan adalah melakukan peningkatan daya saing pada produknya.

 Baca juga: Surplus Neraca Dagang Tak Bikin Wamenkeu Puas

Selain itu, perlu mencari peluang ekspor produk baru ke beberapa negara. Misalnya saja peluang peningkatan ekspor ke Amerika Serikat.

Menurut Bhima, potensi dari market Amerikas Serikat dan menurunnya tensi perang dagang harus dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha indonesia. Namun sayangnya bukan hanya Indonesia yang siap penetrasi ke pasar AS, negara seperti Vietnam dan Malaysia juga sudah mulai bersiap siap.

 Baca juga: Neraca Dagang Surplus tapi Sayang Tak Berkualitas

“Jadi fokus harus pada peningkatan daya saing produk, intelijen pasar dan mendorong perwakilan indonesia di AS untuk cari peluang ekspor,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (17/11/2020).

Bhima juga meminta kepada pemerintah untuk memanfaatkan meredanya tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Misalnya dengan meninnkatkan ekspor bahan baku untuk produksi industri di China.

“Selain itu meredanya tensi dagang AS dengan China membawa kesempatan meningkatnya ekspor bahan baku untuk produksi industri di China. Jangan sampai kesempatan ini hilang begitu saja,” ucapnya.

Bhima menambahkan, kinerja ekspor Indonesia yang surplus bukan sesuatu yang berkualitas. Menurutnya, surplus yang terjadi pada Indonesia lebih disebabkan karena belum pulihnya kinerja ekspor. Sementara nilai impor juga turun lebih dalam akibat masih rendahnya permintaan bahan baku.

“Kurang bagus karna surplus lebih disebabkan belum pulihnya kinerja ekspor smentara impor turun lebih dalam akibat rendahnya permintaan bahan baku,” jelasnya.

Selain itu, rendahnya impor juga dikarenakan masih lesuinya daya beli masyarakat. Sehinggi impor barang konsumsi juga saat ini masih sangat rendah dan berpengaruh pada kinerja keseluruhan.

“Ada tekanan pada daya beli masyarakat yang berpengaruh terhadap impor barang konsumsi,” ucapnya.

Sebagai informasi sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2020 mengalami surplus sebesar USD3,61 miliar. Angka kni mengalami kenaikan jika dibandingkan suruplus bulan lalu karena hanya USD2,39 miliar.

Ini merupakan surplus enam kali neraca dagang Indonesia pada tahun ini. Ini memperpanjang rentetan surplus setelah pada September sudah mencatatkan lima kali.

Surplus neraca perdagangan Oktober karena angka Ekspor lebih besar dari impor. Apalagi adanya penurunan impor cukup dalam pada Oktober 2020.

Adapun angka ekspor, pada Oktober tercatat sebesar USD14.39 miliar. Angka tersebut mengalami kenaikan 3.09% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu justru mengalami penurunan sebesar -3,29%% (year on ear/yoy). Sebab angka ekspor pada Oktober 2019 mencapai USD14,88miliar.

Di sisi lain, angka impor pada Oktober 2020 tercatat sebesar USD10,78 miliar. Angka ini mengalami penurunan sebesar 6,79% dibandingkan September 2020 (month to month/MtM) yang mencapai USD11,57 miliar.

Sementara jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, angka impor justru turun lebih tajam yakni sebesar 26,93% (Year on Year/YOY). Sebab pada Oktober 2019 angka impor Indonesia mencapai USD14,76 miliar

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini