Keputusan Suku Bunga BI Warnai Gerak Rupiah Hari Ini

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 10:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 320 2312195 keputusan-suku-bunga-bi-warnai-gerak-rupiah-hari-ini-kUhyAjqqTd.jpg Rupiah Menguat terhadap Dolar AS. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkiraan bergerak pada level Rp14.050-Rp14.200. Rupiah dinilai belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan dolar.

Berdasarkan Bloomberg, Rupiah melemah 15 poin atau 0,11% ke level Rp14.070 per USD. Kurs referensi JISDOR melemah 0,32% ke Rp14.118 per USD. Sementara dollar index juga melemah 0,21% menjadi 92.222 pada pukul 15.32 WIB.

Baca Juga: Rupiah Lesu di Rp14.102/USD Menanti Rilis Suku Bunga Acuan BI

Mayoritas mata uang Asia menguat, namun Rupiah ternyata belum mampu memanfaatkan momentum pelemahan USD ini. Demikian dikutip dari riset Treasury MNC Bank, Kamis (19/11/2020).

Sentimen pasitif dari keberhasilan vaksin masih ada, namun sepertinya kemarin terjadi profit taking yang membuat Rupiah sedikit melemah. Aksi wait n see hasil rapat dewan Gubernur BI juga turut mewarnai pergerakan Rupiah.

Baca Juga: Rupiah Dibuka Lesu, Bertahan di Rp14.080/USD

Hari ini Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubenur (RDG) dengan agenda utama penentuan suku bunga acuan. Perkiraan sementara BI 7 Day Reverse Repo Rate masih bertahan di 4%.

Sebenarnya BI berpeluang untuk menurunkan suku bunga acuannya dikarenakan dua alasan, pertama, tekanan inflasi nyaris tak ada. Inflasi pada Oktober sebesar 1,44% (secara tahunan) dan 0,07% (secara bulanan), dengan inflasi tahun berjalan sebesar 0,95%.

Pada November, BI memperkirakan inflasi masih terjaga sebesar 1,53% secara tahunan dan 1,17% secara tahun berjalan, dan inflasi bulanan 0,21%. Tidak ada lonjakan harga yang berarti. Ketika inflasi terjaga, maka tak ada kebutuhan untuk mematok suku bunga acuan tinggi yang diperlukan guna menyerap uang beredar ke sistem perbankan.

Kedua, tekanan terhadap Rupiah juga mereda dan berpeluang surut ketika Amerika Serkat memiliki presiden baru, Joe Biden yang akan menggelontorkan stimulus ke perekonomian dan sistem keuangan.

Kemenangan Biden ini akan menguntungkan negara-negara emerging market seperti Indonesia, sebab perang dagang AS-China kemungkinan akan mengendor. Selain itu, stimulus fiskal juga akan lebih besar sehingga ada semakin banyak uang yang beredar di perekonomian.

Pada November, BI memperkirakan inflasi masih terjaga sebesar 1,53% secara tahunan dan 1,17% secara tahun berjalan, dan inflasi bulanan 0,21%. Tidak ada lonjakan harga yang berarti. Ketika inflasi terjaga, maka tak ada kebutuhan untuk mematok suku bunga acuan tinggi yang diperlukan guna menyerap uang beredar ke sistem perbankan.

Kedua, tekanan terhadap Rupiah juga mereda dan berpeluang surut ketika Amerika Serkat memiliki presiden baru, Joe Biden yang akan menggelontorkan stimulus ke perekonomian dan sistem keuangan.

Kemenangan Biden ini akan menguntungkan negara-negara emerging market seperti Indonesia, sebab perang dagang AS-China kemungkinan akan mengendor. Selain itu, stimulus fiskal juga akan lebih besar sehingga ada semakin banyak uang yang beredar di perekonomian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini