Masih Kalah dengan Minyak, EBT di RI Cuma 13,6%

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 25 November 2020 18:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 25 320 2316152 masih-kalah-dengan-minyak-ebt-di-ri-cuma-13-6-dVFV98HvXA.jpg Minyak Mentah (Shutterstock)

JAKARTA - PT PLN (Persero) mencatat hingga November 2020 porsi bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia baru mencapai 13,6 persen dengan kapasitas terpasang sebesar 8.000 mengawatt. Sementara itu, non EBT mencapai 87,4 persen.

Direktur Mega Proyek PT PLN (Persero) M Ikhsan Asaad mengatakan, dari data pihaknya, pada 2020 EBT dalam negeri masih didominasi oleh Pembangkit listrik tenaga air (PLTA), PA, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta Biomass.

  Baca juga: Simak Usulan PLN di RUU Energi Baru Terbarukan, Apa Apa Saja?

"Sampai dengan November ini porsi EBT buaran energi kita baru mencapai 13,6 persen dengan kapasitas terpasang kurang lebih 8.000 megawatt, tentunya ini sangat memiliki tantangan. Dari data ini, yang mendominasi EBT kita itu PLTA, disusul PA, PLTP, PLTS, dan Biomass," ujar Ikhsan, Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Manajemen perseroan juga mencatat, di sisi kelistrikan dan proyeksi energy mix atau bauran sumber energi pada tahun ini juga masih didominasi oleh pembangkit bahan bakar fosil. Itu karena, sejak 2000 hingga 2019 pertumbuhan pembangkit fosil di Indonesia mencapai 6 persen. Meski begitu, diproyeksikan pada 2020 sampai 2029 akan menurun menjadi 3,6 persen.

 Baca juga: 17 PLTS Terangi Pos Jaga di Perbatasan Papua

"Dan ini kalau kita lihat dari pembangkit EBT dari 2000 sampai 2019 itu tumbuh 7,1 persen, tetapi rencana kita ke depan dari 2020 sampai 2029 itu tumbuh 12,2 persen," kata dia.

PLN akan berupaya mengambil sejumlah langkah strategi untuk menggenjot penggunaan EBT, khusus bagi daerah-daerah yang masih menggunakan penggunaan pembangkit diesel. Seperti di sejumlah Wilayah di Indonesia Timur. Misalnya Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

"Di Indonesia Timur, seperti Maluku, Papua, dan NTT itu memang menunjukan daerah yang defisit (listrik), di mana masih menggunakan pembangkit diesel, jadi ini yang kami dorong ke depan, seperti kami sampaikan sebelumnya, bahwa kami mendorong dan mengakselerasi untuk pengembangan EBT di daerah-daerah yang masih defisit," ujar dia.

Dalam paparannya, ada 2.130 lokasi dengan Kapasitas 2 GW yang masih menggunakan diesel. "Inilah yang kami dorong ke depan, bagaimana mengkonversi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) ini dengan pembangkit EBT, misalnya tahap pertama yang kami persiapkan saat ini ada 200 Megawatt dan 200 lokasi yang kita konferensi ke EBT," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini