Lebih Banyak Kabar Meresahkan, Pemulihan Ekonomi Global Terhambat

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 26 November 2020 12:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 320 2316540 lebih-banyak-kabar-meresahkan-pemulihan-ekonomi-global-terhambat-qJ58Ju9izX.jpg Dampak Covid-19 pada Ekonomi Dunia. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Berita vaksin Covid-19 telah memicu optimisme bahwa pemulihan ekonomi global dapat berlanjut. Meskipun, harus diakui bahwa lebih banyak berita meresahkan tentang virus mematikan tersebut.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa ekonomi AS tumbuh 33.1% di kuartal ketiga 2020, sesuai dengan estimasi. Selain itu, hasil tersebut sekaligus menjadi kenaikan yang tertinggi sepanjang sejarah, mengingat total penurunan GDP AS di dua kuartal sebelumnya hampir mencapai minus 37%.

Baca Juga: Food Estate Didanai Anggaran PEN, Ini Kata Wamen BUMN

Treasury MNC Bank dalam risetnya menyampaikan, Kamis (26/11/2020), Departemen Ketenagakerjaan AS merilis Unemployment Claim mingguan. Berkebalikan dengan GDP, klaim pengangguran justru mengecewakan.

Jumlah orang yang mengajukan tunjangan naik menjadi 778,000, dari 748,000. Padahal para ekonom mengekspektasikan jumlah klaim pengangguran berkurang menjadi 732,000.

Baca Juga: Jokowi Akui Tahun Ini dan 2021 Sulit untuk Dilalui

Hal ini menunjukkan bahwa penularan virus Corona babak kedua di AS, berdampak pada pemulihan pasar tenaga kerja. Pasalnya, kebijakan lockdown yang terpaksa harus diberlakukan kembali.

Perhatian pasar belum berpaling dari perkembangan vaksin dan politik AS menjelang pergantian presiden. Setelah pengumuman keberhasilan uji coba dari sejumlah perusahaan farmasi AS, kini riset terbaru menunjukkan bahwa vaksin virus Corona dapat tersedia sebelum akhir tahun.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mulai kooperatif terhadap proses transisi kepemimpinan walaupun tak mencabut gugatan atas kekalahannya terhadap Joe Biden. Merespon kabar itu, saham-saham AS menghijau. Sebaliknya, Dolar AS sebagai safe haven currency, kembali tertekan.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) mengimbau agar investor waspada terhadap situasi perbankan zona Euro. Dalam laporan Financial Stability Review yang dipublikasikan setahun dua kali, ECB memeringatkan bahwa bank-bank belum lolos dari bahaya meski ada prospek pemulihan pada tahun depan.

ECB menilai neraca perbankan yang sehat per akhir kuartal ketiga dapat dihasilkan berkat skema bantuan pemerintah, sehingga kerugian aktual bisa jadi lebih besar dari ekspektasi bank-bank itu sendiri.

Dari dalam negeri, arus dana asing terus mengalir masuk ke Tanah Air. Bahkan inflow yang masuk ke pasar modal lebih dari Rp500 miliar. Sayangnya, di sisi lain penambahan jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air masih berlanjut dan masih di atas 5.000 orang per hari.

Dolar AS melanjutkan pelemahannya terhadap mata uang utama lain. Itu terjadi karena investor masih merasa nyaman untuk melirik aset berisiko.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dan berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (25/11/2020). Padahal, investor asing hari ini mencatatkan pembelian bersih atau net buy senilai sekitar Rp518,8 miliar di seluruh pasar.

Bursa saham Asia ditutup bervariasi. Hal itu dipicu oleh sikap investor yang menimbangi ekspektasi terhadap kejelasan vaksin dan transisi kekuasaan di AS dengan outlook ekonomi yang masih menantang ditengah pandemi virus corona.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix Jepang ditutup menguat 0,3%, diikuti dengan kenaikan indeks S&P/ASX 200 Australia yang naik 0,59%. 

Selanjutnya, indeks Hang Seng Hong Kong terpantau naik 0,1 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan dan Shanghai Composite China terkoreksi masing-masing sebesar 0,62% dan 1%.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini