JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada Desember 2020 mencapai 0,45% secara month to month (MoM). Angka ini lebih tinggi daripada inflasi di bulan November 2020 yang sebesar 0,28%. Sementara selama satu tahun terakhir inflasi yang terjadi mencapai 1,68%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi Jasa BPS Setianto mengatakan ada 87 kota yang mengalami inflasi. Sedangkan 3 kota mengalami deflasi.
"Dari data BPS Inflasi bulan Desember mencapai 0,45%," ujar Setianto di Jakarta.
Berikut fakta-fakta terkait inflasi sebesar 0,45% pada Desember 2020 yang dirangkum Okezone Jakarta, Sabtu (9/1/2021).
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahun 2020 Terendah sejak 2014, Ini Biang Keladinya
1. Terjadi Karena Kenaikan Harga Pangan
Pengamat Ekonomi Indef Bhima Yudhistira mengatakan, inflasi yang terjadi pada akhir tahun disebabkan oleh kenaikan harga pangan. Di mana kontribusi pada inflasi yang berasal dari bahan pangan sebesar 2,17% pada Desember 2020.
"Inflasi yang perlu dicermati adalah kenaikan harga bahan pangan pada bulan desember. inflasi pangan atau volatile food tercatat sebesar 2,17% pada bulan desember," ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (4/1/2021).
2. Gangguan Pasokan Bahan Pangan Juga Berpengaruh Pada Inflasi
Menurut Bhima, inflasi tersebut bukan disebabkan kenaikan permintaan. tetapi justru terjadi karena adanya gangguan pada pasokan bahan pangan.
Misalnya, kenaikan harga pangan yang terjadi hampir di semua jenis cabai. Di mana faktor curah hujan yang tinggi ini membuat pasokan sedikit terhambat sehingga membuat harga cabai naik.
3. Kenaikan Harga Cabai Menyumbang Pada Inflasi
Deputi Bidang Statistik Distribusi Jasa BPS Setianto merinci, inflasi tertinggi adalah Gunungsitoli yang mencapai 1,87%. Hal ini disebabkan cabai merah dengan andil 0,64% dan cabai rawit yang mengambil andil sebesar 0,38%.
4. Kenaikan Harga Kedelai Impor Juga Ikut Andil Pada Inflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga kedelai impor turut memberikan kontribusi pada inflasi tahu dan tempe pada Desember 2020.
Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, masing-masing mengalami inflasi 0,06% dan 0,05% secara bulanan (month to month/mtm).
5. Jadi indikator ekonomi berjalan lambat
Sementara itu, Bhima mengatakan bahwa inflasi inti atau core inflation bulan Desember menurun ke 0,05%. Hal ini menjadi indikator jika daya dorong pembentukan harga dari sisi permintaan cenderung rendah.
"Jika disimpulkan inflasi yang terjadi sepanjang Desember merupakan indikasi pemulihan ekonomi berjalan lambat," jelasnya.
6. Dorong BI Lanjutkan Kebijakan Moneter Longgar
Meski begitu, inflasi yang rendah ini memberi ruang kepada otoritas khususnya Bank Indonesia (BI) untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi Nasional.
"BI untuk tetap melanjutkan kebijakan moneter longgar dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional," ujar ekonom Core Piter Abdullah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.