Indeks Dolar AS Menguat imbas Kenaikan Bunga Obligasi

Selasa 12 Januari 2021 07:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 320 2342865 indeks-dolar-as-menguat-imbas-kenaikan-bunga-obligasi-Thpa3ZNnR5.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Reuters)

 JAKARTA – Indeks dolar AS berakhir lebih tinggi terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Dolar memperpanjang penguatan dari level terendah tiga tahun pekan lalu, mengambil kekuatan dari lonjakan imbal hasil obligasi baru-baru ini dan prospek dorongan pertumbuhan dari kenaikan stimulus fiskal AS yang lebih tinggi.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, menguat 0,2% menjadi 90,494, kenaikan sesi keempat berturut-turut. Indeks turun ke level terendah 89,21 pekan lalu, terlemah sejak Maret 2018, dilansir dari Antara, Selasa (12/1/2021).

Baca Juga: Dolar Mulai Bangkit saat Investor Prediksi Demokrat Bisa Menang di Georgia 

Presiden terpilih dari Partai Demokrat AS Joe Biden, yang akan menjabat mulai 20 Januari dengan Demokrat mampu mengendalikan kedua majelis Kongres, telah menjanjikan triliunan dalam pengeluaran bantuan pandemi ekstra.

Biasanya, rencana pengeluaran tambahan akan mendorong investor untuk khawatir tentang kenaikan inflasi dan efek merugikannya pada dolar AS dalam ekonomi yang lemah, tetapi mata uang tersebut telah didukung dalam beberapa pekan terakhir berkat kenaikan imbal hasil AS.

 

Imbal hasil obligasi pemerintah AS telah mencatat pergerakan besar dalam beberapa sesi terakhir, dengan kurva imbal hasil obligasi mengalami peningkatan yang signifikan dalam imbal hasil obligasi bertenor lebih lama.

Imbal hasil acuan obligasi naik ke level tertinggi 10-bulan pada Senin (11/1/2021) karena investor memperkirakan pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi di bawah pemerintahan Joe Biden yang akan datang dan sebelum Departemen Keuangan akan menjual pasokan (obligasi) jangka panjang baru. Pada 99 basis poin, selisih antara imbal hasil obligasi 2 tahun dan 10 tahun berada pada titik tertinggi sejak Juli 2017.

"Apresiasi dolar datang pada saat tidak hanya kenaikan imbal hasil tetapi juga periode risk-off (penghindaran risiko) yang diciptakan oleh meningkatnya ketidakpastian tentang perkembangan politik di AS," kata Paresh Upadhyaya, direktur strategi mata uang dan manajer portofolio untuk Amundi Pioneer Asset Management di Boston

"Saya pikir itu melebih-lebihkan kekuatan dolar," ujarnya.

Spekulan di pasar valas tetap sangat bearish terhadap dolar, data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS yang dirilis pada Jumat (8/1/2021), menunjukkan. Dolar yang lebih kuat menggigit pound, dengan mata uang Inggris itu turun 0,3%, karena kepala penasihat medis Inggris memperingatkan bahwa beberapa minggu ke depan pandemi akan menjadi yang terburuk.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini