Sulitnya Cari Kerja, Kisah Abdul Lulusan S2 Jerman Kirim 800 Lamaran dan Ditolak

Fadel Prayoga, Jurnalis · Selasa 09 Februari 2021 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 09 622 2359396 sulitnya-cari-kerja-kisah-abdul-lulusan-s2-jerman-kirim-800-lamaran-dan-ditolak-hzqEJWCIlz.jpg Karyawan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Cari kerja semakin sulit di masa pandemi covid-19. Tingkat pengangguran di berbagai negara pun menunjukkan adanya lonjakan selama adanya pandemi Covid-19. Hal ini karena banyak perusahaan yang mempertimbangkan biaya lebih ketika akan merekrut pegawai anyar.

Kondisi keuangan yang sedang tak sehat membuat banyak usaha mempertahankan karyawan lama untuk dipekerjakan dengan beragam pekerjaan. Oleh sebab itu, kini acap kali ditemukan seorang mahasiswa dari salah satu universitas terbaik yang sudah lulus, tapi statusnya masih menganggur.

Baca Juga: 5 Kemampuan Ini Wajib Dimiliki Fresh Graduate yang Siap Kerja

Salah satu contohnya menimpa Abdul Kader Tizini. Pria yang menamatkan kuliah S-2 di bidang teknik mesin dari RWTH Aachen, Jerman bernasib sial karena tak kurang sebanyak 800 lamaran kerjanya ditolak berbagai perusahaan di sana.

Krisis ekonomi yang melanda Eropa membuat mayoritas perusahaan ogah mempekerjakan tenaga kerja asing. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan banyak biaya ketika memutuskan menggunakan tenaga kerja bukan dari negaranya.

Baca Juga: 5 Cara Menghindari Penipuan Lowongan Kerja

"Perusahaan berpikir, 'Dengan orang asing kami harus menjelaskan gagasan itu dua kali, dengan orang asli hanya sekali'," kata Tizini seperti dilansir dari Reuters, Selasa (9/2/2021).

Mempekerjakan pembekuan dan PHK di ribuan perusahaan Jerman berarti lulusan asing seperti Tizini menghadapi persaingan ketat dengan lulusan asli dan profesional yang menganggur.

Tidak seperti warga negara Jerman dan Uni Eropa, yang berhak atas tunjangan pengangguran dan bantuan virus corona, banyak lulusan asing yang tidak memenuhi syarat.

Ratusan ribu siswa internasional tertarik ke Jerman dalam dekade terakhir, didorong oleh sistem pendidikan tinggi terkemuka namun hampir gratis dan prospek kerja pasca kelulusan.

Jumlah siswa internasional di Jerman meningkat sekitar 70% antara 2009 dan 2019, data dari Kantor Statistik Federal.

Sementara itu, penasihat karir di RWTH Aachen Anja Robert mengatakan siswa internasional di Jerman merasa lebih sulit untuk mendapatkan pekerjaan daripada penduduk asli Jerman.

Permintaan untuk sesi konseling timnya dan dukungan psikologis telah meningkat sejak Maret, ketika Jerman melakukan lockdown pertama untuk memerangi pandemi.

"Di masa tidak aman seperti itu, orang cenderung ke arah keamanan, mengandalkan keterampilan bahasa, ciri budaya, dan pemahaman yang mapan," ujarnya.

Tingkat pengangguran Jerman naik sebanyak 6,4% setelah pemerintah memberlakukan lockdown pertama, dari 5% di bulan sebelumnya. Ini mencapai 6% pada Januari tahun ini.

Dampak pandemi pada pasar kerja Jerman telah dikurangi dengan skema "Kurzarbeit" pemerintah yang memungkinkan pemberi kerja untuk memangkas jam kerja selama penurunan ekonomi. Tapi itu juga membuat perekrutan menjadi lebih sulit.

Perusahaan yang berada dalam skema tersebut dapat mempekerjakan staf dalam kasus luar biasa jika mereka memiliki alasan kuat, kata Ludwig Christian, juru bicara Kantor Perburuhan Federal.

Antara April 2020 dan Januari tahun ini, jumlah lowongan baru di Jerman turun 430.000, atau 26% tahun-ke-tahun, data dari Kantor Tenaga Kerja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini