Sri Mulyani: Perubahan Iklim Bikin Orang Miskin Menderita

Rina Anggraeni, Jurnalis · Kamis 18 Februari 2021 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 320 2364102 sri-mulyani-perubahan-iklim-bikin-orang-miskin-menderita-PywfxXSNAR.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Okezone.com/Kemenkeu)

JAKARTA - Perubahan iklim memberikan dampak pada masyarakat. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai, perubahan iklim yang terjadi membuat masyarakat miskin lebih menderita.

"Sekali lagi, saya pikir, atau banyak lembaga lain dapat melihat banyak dari survei atau studi awal yang menunjukkan bahwa perubahan iklim, juga memiliki implikasi yang berbeda bagi orang miskin, daripada untuk orang kaya di mana orang miskin, apakah ini negara miskin atau orang miskin. Akan lebih terpengaruh dan lebih menderita dari perubahan iklim ini," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Kamis (18/2/2021).

Baca Juga: Divaksin Covid-19 di Tanah Abang, Harapan Pedagang: Biar Ekonomi Pulih

Untuk itulah faktanya, masyarakat miskin sulit untuk bisa menerima perubahan iklim yang terjadi di setiap negara.

"Itulah bukti bahwa kita bisa terus belajar, tapi yang pasti perubahan iklim memiliki implikasi berbeda bagi negara miskin, dan masyarakat miskin mereka lebih menderita," beber Sri Mulyani.

Baca Juga: Menko Airlangga Proyeksi Ekonomi RI 2021 Rebound ke 5,5%

Selain adanya perubahan iklim yang cukup merugikan masyarakat, lanjut Sri Mulyani, perkembangan teknologi digital memberikan banyak harapan dan kesempatan untuk maju.

"Namun jangan lupa, sebagai pembuat kebijakan serta anda semua yang bertanya untuk belajar dan melakukan penelitian juga menunjukkan bahwa teknologi digital ini berpotensi dapat menciptakan pemecah belah masyarakat dimana mereka yang memiliki aksesibilitas, mereka lebih memiliki kemampuan untuk menjadi lebih produktif dan memanfaatkan teknologi ini," beber Sri Mulyani.

Dia menambahkan, pandemi, perubahan iklim dan teknologi berpotensi menciptakan dan memberikan tambahan masalah untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.

"Mereka bisa menjadi ancaman bagi pertumbuhan inklusif. Tapi bisa menjadi ancaman pembangunan berkelanjutan," tandas Sri Mulyani.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini